Saat Commuter Line Mengubah Hidup'
Langkah kaki Wawan Zaelani (44) pagi itu terasa lebih ringan saat menapakkan kaki di peron Stasiun Rancaekek, Kabupaten Bandung. Di pundaknya, sebuah tas kain berukuran sedang berisi beberapa sampel pakaian rajut bergelayut santai.
Selama bertahun-tahun, rutinitas pagi Wawan selalu diakrabkan dengan setang motor atau kemudi mobil pribadi, membelah kemacetan jalur lintas Bandung Timur yang kerap menguras energi, bahkan sebelum toko pakaian miliknya di Pasar Baru, Kota Bandung mulai dibuka. Keputusan ekstrem diambil Wawan sekitar setahun lalu, ketika ia memilih menyandangkan kunci kendaraan pribadinya di rumah dan beralih sepenuhnya menjadi pelaju commuter line Bandung Raya.
"Berapa tahun ya pakai kendaraan pribadi, lama lah. Baru setahun ini nih pakai kereta lokal, banyak pertimbangan tapi ternyata lebih menikmati juga saya," ujarnya ditemui Baginya, menembus belantara beton dan kepulan asap jalan raya bukan lagi pilihan yang bijak di usia kepala empat
Menumpang ular besi pelat merah kini menjadi ritual baru yang tidak hanya mengubah cara ia bermobilisasi, melainkan juga cara ia menikmati hidup. "Dulu, waktu masih pakai motor atau mobil, perjalanan dari Rancaekek ke Pasar Baru itu kayak tes kesabaran. Jalur arteri Rancaekek sampai Soekarno-Hatta itu terkenal dengan macetnya yang tidak bisa ditebak. Begitu sampai toko, badan sudah telanjur lelah duluan sebelum mulai dagang," ujar Wawan saat berbincang, mengenang masa-masa ia masih menjadi pejuang jalan raya.
Perbedaan waktu tempuh menjadi variabel paling kontras yang dirasakan oleh bapak dua anak ini. Jika dahulu menggunakan kendaraan pribadi membutuhkan waktu hingga 1,5 sampai 2 jam, bahkan bisa lebih jika hujan mengguyur. Kini, bersama commuter line, waktu tempuh terpangkas secara konsisten menjadi hanya sekitar 30 hingga 40 menit saja.
Ketepatan waktu kereta api memberikannya kepastian jadwal yang selama ini absen saat ia masih mengandalkan jalur darat non-rel. "Ya bayangin, saya dulu waktu belum punya kios itu, harus packing dari jam 04.00 WIB, barang dagangan masukin box besar, itu kan box-nya gak satu, banyak. Baru jalam jam 05.30 WIB, sampai sana sekitar jam 08.00 atau 08.30 WIB, mulai dagang jam 10.00 WIB, ke waktu siang tuh deket, cape lah," ujarnya. Efisiensi waktu ini secara otomatis mengubah total ritme dan rutinitas harian Wawan di pagi hari.
Ia tidak perlu lagi tergesa-gesa memacu kendaraan demi menghindari kemacetan subuh yang mengular di kawasan koridor jalan nasional. Perubahan ini membawa dampak psikologis yang besar bagi ritme kerjanya di Pasar Baru, di mana ia kini bisa membuka toko dengan kondisi pikiran yang jauh lebih segar dan tenang.
"Kalau sekarang tuh, karena kebiasaan persiapan dari jam 04.00 WIB, berangkat tetap jam 05.30 WIB ke Stasiun Rancaekek, nyampe paling jam 07.00 WIB di Stasiun Bandung, pesen Go-Car, jam 08.00 WIB tuh saya udah ngelapak dan dapat pembeli pagi, Alhamdulilah," ujar dia. Tak lagi "tua di jalan" Istilah “tua di jalan” kini, tak lagi membayangi Wawan, dalam kelakarnya Wawan mengubah anekdot itu menjadi "fresh di jalan".
Tak hanya itu, Wawan telah menandai tempatnya sendiri saat menaiki commuter line. "Mun rek neang Abi, aya di gerbong lima (Kalau mau cari saya, ada di gebong lim). Cari saja, pasti ada di pemberangkatan jam 06.00 WIB," ucap dia.
Bukan hanya soal waktu, peralihan moda transportasi ini juga menjadi jurus jitu Wawan dalam memangkas pengeluaran bulanan secara signifikan. Biaya bahan bakar minyak (BBM), tarif tol jika menggunakan mobil, hingga biaya perawatan kendaraan dan parkir yang biasanya menyedot porsi besar dari keuntungan dagangnya, kini terpangkas hingga 70 persen.
Uang yang semula habis di jalanan, kini bisa dialokasikan Wawan untuk pos pengeluaran lain yang lebih esensial bagi keluarganya. "Ya kan ada atuh modal buat ongkos, sekarang mah pergi cuma Rp 5.000 naik kereta, terus pesen Go-Car dari dari Stasiun Bandung ke Pasar Baru paling cuma Rp 15.000, itu juga sudah ke tolongin saya gak bawa barang banyak karena sudah ada kios. Jadi, sangat memotong atau mengurangi pisan," ujar Wawan. Lebih dari sekadar hitungan angka di atas kertas, keputusan beralih ke kereta api lokal ini pada akhirnya mengembalikan kualitas hidup yang layak bagi Wawan.
Rasa lelah kronis
akibat stres di jalan raya perlahan sirna, berganti dengan kehangatan waktu berkumpul yang lebih berkualitas bersama istri dan anak-anak di rumah saat sore menjelang. "Kalau berkah atau hikmahnya mah apa ya, di bilang teratur ya bisa. Jadi sudah tergambar gitu harus berangkat jam berapa, terus sampai jam bebrapa sudah kegambar. Efisiensi waktu ini bikin saya tidak lagi dikejar-kejar rasa takut tertinggal oleh pelanggan yang sudah menunggu di Pasar Baru," tutur dia.
Wawan melangkah keluar dari gerbong kereta yang telah membenamkannya dalam cerita sejak dari Stasiun Rancaekek. Usai menyandarkan kepala di kursi empuk serta menikmati pemandangan Kota dari balik jendela, ia beranjak, memantaskan dagangannya dihadapi pembeli. Di balik tas kain berisi sampel pakaian rajut yang bergelayut, ada harapan yang mengerak di lokomotif commuter line. Perjalanan tak sekadar mengantarkannya pada pundi-pundi rupiah di Pasar Baru, melainkan juga mengantarkannya pulang tepat waktu ke pelukan keluarga.
Pengalaman beralih ke commuter line memang dapat membawa dampak positif yang luar biasa, terutama bagi mereka yang sebelumnya sudah terbiasa menggunakan kendaraan pribadi di jalur padat. Seperti yang dialami Wawan Zaelani, perubahan ini bukan sekadar soal menghemat waktu, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh. Saya sendiri pernah mencoba menggunakan commuter line untuk perjalanan harian dan merasakan bagaimana hidup menjadi lebih efisien. Dengan jadwal kereta yang tepat waktu dan rute yang langsung, saya tidak perlu lagi khawatir terkena kemacetan yang bisa menyebabkan rasa lelah dan stres sebelum sampai tujuan. Pengalaman ini membuat aktivitas harian saya menjadi lebih produktif dan menyenangkan. Selain itu, penghematan biaya transportasi juga sangat terasa. Biaya yang sebelumnya banyak terserap oleh bahan bakar, perawatan kendaraan, dan parkir kini bisa dialihkan untuk kebutuhan lain yang lebih penting, seperti edukasi anak atau tabungan keluarga. Dalam beberapa kasus, penggunakan commuter line juga mendukung gaya hidup yang lebih ramah lingkungan karena mengurangi emisi kendaraan pribadi di jalanan. Hal yang saya suka dari commuter line adalah kesempatan untuk menikmati perjalanan dengan tenang, membaca buku atau sekedar melihat pemandangan kota dari jendela kereta. Ini memberikan momen relaksasi yang sulit didapatkan saat berkendara sendiri, apalagi dalam kondisi lalu lintas yang padat. Selain itu, tersedia berbagai rute yang menghubungkan beberapa kawasan penting, memudahkan mobilitas bagi yang tinggal di pinggiran kota. Menurut saya, bagi banyak orang yang merasa ‘tua di jalan’ akibat perjalanan yang melelahkan, beralih ke commuter line merupakan solusi cerdas. Hasilnya, bukan hanya menghemat waktu dan biaya, tetapi juga menjaga kebugaran mental dan fisik. Kebiasaan yang saya sarankan adalah disiplin dalam mengatur jadwal keberangkatan dan mempersiapkan diri lebih awal untuk mendapatkan pengalaman perjalanan yang optimal tanpa tergesa-gesa. Dengan segala kemudahan dan manfaat yang diberikan, commuter line pun berperan sebagai motor penggerak bagi aktivitas sehari-hari terutama di kota besar, membantu masyarakat menyeimbangkan waktu kerja dan waktu bersama keluarga. Seperti Wawan, mereka yang berani mengambil langkah beralih dari kendaraan pribadi ke moda transportasi umum ini terbukti memperoleh kualitas hidup yang lebih baik dan memuaskan.




