Ini ceritaku, yang sedari kelas 6 SD (2012) sudah jerawatan, bahkan sampai sekarang. Puji Tuhan, semakin ke sini semakin membaik, mesti ada drama on-off. Hahah.
Dulu, orang jerawatan sepertiku masih dianggap tabu.
"Udah mikir pacar ya?"
Karena dari awal aku sudah keterbatasan support dan informasi yang benar, pemikiranku hanya sebatas jerawat hilang (kempes) dengan dipencet. Akibatnya? Dark spot & scars ada di wajahku.
Ini jadi pembelajaran buatku, kalau kelak aku sudah punya anak dan kebetulan dia sedang ada jerawat, aku akan mengedukasi tentang perawatan wajah (jerawat) dengan cara yang benar. Heheh.
... Baca selengkapnyaKalau mengingat lagi masa SD, aku tuh cuma anak biasa yang pengin kelihatan rapi di foto bareng teman-teman. Setiap kali ada sesi foto berdiri berjajar di halaman sekolah, aku pasti deg-degan sendiri. Bukan karena malu difoto, tapi takut jerawatku kelihatan jelas di kamera. Di saat teman-teman cowok bisa santai pas foto berdiri pakai seragam SD, aku sibuk mikir: gimana caranya nutupin jerawat, dari sudut mana wajahku nggak kelihatan parah.
Waktu itu, belum ada edukasi soal skin barrier, basic skincare, apalagi soal jerawat itu normal. Komentarnya malah lebih sering kayak, "Kok jerawatan? Nggak rajin cuci muka ya?" atau bercandaan yang pakai jerawat sebagai bahan olok-olok. Padahal, buat orang yang lagi jerawatan parah, satu kalimat aja bisa kebawa sampai pulang, dan ngefek ke rasa percaya diri.
Di SMP dan SMA, momen foto bareng—baik foto buku tahunan, foto upacara, maupun sekadar foto iseng di kelas—jadi semacam ujian mental. Teman cowok banyak yang santai berdiri di depan kamera tanpa kepikiran apa-apa soal kulit, sementara aku sibuk nyari posisi paling aman. Kadang sengaja berdiri di pinggir, agak menunduk, atau berusaha ketawa lepas biar orang fokus ke senyumku, bukan ke jerawat di pipi dan dagu.
Setelah lulus, pelan-pelan aku sadar kalau yang perlu diubah bukan cuma kondisi kulitku, tapi juga cara pandangku ke diri sendiri. Aku mulai belajar basic skincare, dari cuci muka yang benar, pakai toner, pelembap, sampai sunscreen. Bukan buat punya kulit mulus sempurna, tapi supaya aku merasa lebih nyaman sama diri sendiri, termasuk kalau tiba-tiba diajak foto berdiri bareng teman-teman di luar atau pas lagi liburan.
Sekarang pun jerawatku masih ada, bekasnya juga belum hilang total, tapi bedanya: aku sudah lebih santai. Kalau ada foto full body atau foto berdiri rame-rame, aku nggak lagi sibuk mikirin, "Aduh jerawatku kelihatan nggak ya?" tapi lebih mikir, "Mau pose apa supaya kelihatan happy?". Aku belajar melihat foto-fotoku sebagai dokumentasi perjalanan hidup, bukan cuma dokumentasi kondisi kulit.
Buat kamu yang mungkin sekarang lagi di fase minder kalau diajak foto karena jerawat, aku cuma mau bilang: pelan-pelan aja. Wajar banget kok ngerasa nggak nyaman. Tapi jangan sampai rasa minder itu bikin kamu nggak mau ikutan momen seru bareng teman-teman. Jerawat bisa diobati pelan-pelan, bisa membaik seiring waktu, sementara momen dan kenangan berharga belum tentu datang dua kali.
Kalau dulu aku punya anak SD yang jerawatan di dekatku, aku pengin banget bilang ke dia: "Nggak apa-apa jerawatan. Kamu tetap layak difoto, tetap pantas berdiri paling depan, dan tetap berharga, dengan atau tanpa jerawat." Karena pada akhirnya, kita semua punya versi "si Jelita" masing-masing—yang sedang belajar berdamai dengan kulit dan diri sendiri.