seringkali kita mengangkat tangan memuji dia, padahal pikiran kita melayang entah kmna dan kita masih pegang kendali penuh atas hidup kita

5/8 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDalam pengalaman saya, menghadapi pergumulan batin antara memuji Tuhan dan pikiran yang melayang memang sering terjadi. Saya juga merasa, seperti yang tertulis dalam refleksi ini, bahwa kadang kita mengangkat tangan dalam doa atau pujian, namun hati dan pikiran kita belum sepenuhnya hadir atau tunduk pada firman-Nya. Saya pernah merasakan kebingungan antara keinginan untuk menyerahkan kendali hidup kepada Tuhan dan keinginan untuk tetap memegang kendali itu sendiri. Sebagaimana yang dikatakan dalam firman bahwa "firman itu hidup dan berkuasa, lebih tajam dari pedang", saya menyadari pentingnya membiarkan firman Tuhan menembus dan mengubah sisi terdalam diri saya, termasuk hal-hal yang sering saya sembunyikan bahkan dari diri sendiri. Proses spiritual itu tidak mudah; terkadang terasa seperti memikul salib, sebuah perjalanan yang berat namun penuh makna. Saya belajar bahwa tidak cukup hanya mengucapkan kata-kata atau melakukan ritual ibadah tanpa perubahan hati yang sejati. Ada masa ketika saya merasa harus dibangun dan dirobohkan kembali, menghapus topeng dan alasan yang saya gunakan untuk menutupi ketakutan dan pemberontakan dalam diri. Perjalanan untuk benar-benar mengikuti Tuhan berarti meninggalkan segala sesuatu yang palsu dan mengizinkan hati yang tulus untuk muncul. Saya juga merasakan bagaimana kehadiran Tuhan memberi kekuatan meski dalam proses yang sulit itu. Memilih untuk taat dan mendekat kepada Tuhan bukan hanya soal kekuatan, melainkan juga pilihan sadar untuk menyerahkan kendali hidup. Refleksi ini membantu saya memahami bahwa panggilan Tuhan bukan hanya untuk memuji secara lahiriah, tetapi untuk benar-benar hidup dalam kasih dan ketaatan sejati. Saat kita memilih untuk meninggalkan kasih mula-mula dan menolak salib yang harus dipikul, kita kehilangan esensi mengikuti Tuhan. Namun, saat kita berani berserah dan membuka hati, kasih dan kekuatan-Nya akan memulihkan dan membimbing langkah hidup kita. Semoga pembaca juga dapat menemukan kedamaian dan kekuatan dalam perjalanan spiritual mereka, belajar bahwa kendali hidup yang sejati ada dalam tangan Tuhan, bukan semata dalam pikiran yang terbagi.