... Baca selengkapnyaAku pernah ada di posisi bingung bedain mana orang yang benar-benar beradab dan mana yang cuma penjilat. Di medsos banyak banget gambar penjilat atau quote tentang adab, tapi ketika ketemu di dunia nyata, rasanya jauh lebih kompleks.
Yang paling kelihatan dari ciri-ciri penjilat menurut pengalamanku itu konsistensi. Misalnya, dia super ramah ke orang yang berharta, berpangkat, atau punya posisi penting. Sapanya hangat, bahasanya halus, sampai rela melakukan hal-hal berlebihan buat cari perhatian. Tapi begitu ketemu orang yang dianggapnya “biasa aja”, miskin, atau nggak punya jabatan, langsung dingin, minimize senyum, bahkan kadang suka merendahkan. Kontrasnya kelihatan banget.
Ada juga orang penjilat yang suka banget tampil baik di depan banyak orang, apalagi di depan atasan. Di depan publik seolah paling peduli, paling sopan, paling pengertian. Tapi di belakang, dia bisa menggosip, menjatuhkan, atau pura-pura nggak kenal. Adab seperti ini menurutku bukan adab, tapi strategi supaya terlihat baik.
Beda sama orang yang sopan tapi bukan penjilat. Mereka biasanya punya standar adab yang sama ke semua orang. Mau itu satpam, OB, penjual di pinggir jalan, orang miskin, atau bos besar, mereka tetap menjaga tutur kata dan sikap. Nggak ada drama berlebihan, nggak dibuat-buat. Bahkan kadang justru lebih lembut ke orang yang lemah atau kesulitan.
Dulu aku sempat juga takut dikira penjilat kalau berusaha sopan ke atasan. Tapi aku belajar bedain niat: kalau kita menghormati semua orang secara seimbang, nggak cuma yang menguntungkan kita, itu namanya adab. Penjilat biasanya hanya baik ketika ada sesuatu yang dia kejar: jabatan, perhatian, pujian, atau materi.
Quote yang tulisannya kira-kira, "Kalau adabmu berlaku pada orang yang berharta dan berpangkat, tapi hilang pada orang miskin dan tak mempunyai pangkat, itu bukan adab tapi penjilat" itu ngena banget buatku. Kalimat itu bikin aku refleksi: adabku ini tulus atau selektif? Aku mulai lebih sadar buat cek diri sendiri, bukan cuma menilai orang lain.
Kalau kamu lagi merasa berada di lingkungan yang penuh orang penjilat, salah satu cara jaga diri adalah tetap pegang prinsip. Kita nggak bisa ngatur sifat orang lain, tapi kita bisa pilih untuk nggak ikut-ikutan. Hargai orang karena mereka manusia, bukan karena kedudukan. Nggak perlu jadi keras, cukup jujur dan konsisten.
Sesekali nggak apa-apa juga menyimpan gambar penjilat atau quote tentang adab sebagai pengingat pribadi. Buatku, kata-kata seperti itu jadi semacam cermin kecil: setiap kali baca, aku ditanya lagi, "Kamu benar-benar beradab, atau cuma butuh dilihat baik?" Dari situ pelan-pelan belajar jadi orang yang nggak selektif dalam berbuat baik.