MENU AYAM DAN KEBAB DIDUGA JADI PEMICU MURID KERACUNAN
PRAYA-Sebanyak 352 murid dari lima sekolah di Kabupaten Lombok Tengah, NTB, diduga mengalami gangguan kesehatan hingga harus mendapatkan penanganan medis di empat puskesmas.
Para murid mengeluhkan sejumlah gejala, di antaranya mual dan sakit perut. Mereka kemudian dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis. Para orang tua turut menemani anaknya ke puskesmas, mereka histeris melihat kondisi anaknya yang mual muntah.
Ada Lima sekolah yang terdampak yakni SDN Beber, SDN Repok Puyung, SDN 2 Lendang Tampel, MTs Qudwatun Hasanah dan SDN Mertak Kesambik, Kecamatan Batukliang.
Berdasarkan data penanganan, sebanyak 124 siswa dibawa ke Puskesmas Aik Darek, 144 siswa mendapatkan penanganan di Puskesmas Pringgerata, 67 murid dibawa ke Puskesmas Mantang, dan 17 murid lainnya mendapat perawatan di Puskesmas Bagu. seluruh murid telah mendapatkan penanganan medis tersebut kini telah diperbolehkan pulang.
Menu MBG berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gunung Kedul di Desa Mekar Bersatu, Lombok Tengah.(RD)
Pengalaman seperti dugaan keracunan massal pada murid sekolah, saat ini semakin memprihatinkan karena berpotensi mengganggu kesehatan dan kegiatan belajar. Dari cerita yang saya dengar dan alami sendiri saat menjadi orang tua, makanan yang disajikan di sekolah harus sangat diperhatikan kebersihan dan keamanannya. Menu ayam dan kebab yang diduga menjadi penyebab gangguan kesehatan bagi murid di Lombok Tengah ini mengingatkan kita semua untuk selalu waspada terhadap kualitas bahan makanan yang dikonsumsi anak. Berdasarkan keterangan yang beredar, bau ayam yang sudah mulai basi dan kebab menjadi indikasi utama pemicu keracunan. Saat mengalami mual, muntah, dan sakit perut, anak-anak harus segera mendapatkan perhatian medis seperti yang dilakukan oleh puskesmas di daerah tersebut. Hal ini menunjukkan pentingnya respon cepat dari tenaga medis dan pemerintah daerah dalam menangani kasus keracunan massal agar tidak berakibat fatal. Menurut saya, perlunya edukasi bagi sekolah dan penyedia katering agar rutin melakukan inspeksi kualitas makanan serta menerapkan standar kebersihan yang ketat. Pengawasan dari orang tua juga sangat diperlukan, terutama saat anak-anak menerima makanan dari luar atau katering sekolah. Saya juga menyarankan agar siswa dan guru diberi pemahaman tentang tanda-tanda awal keracunan agar dapat segera melapor dan ditangani. Kepercayaan terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gunung Kedul di Desa Mekar Bersatu harus dipertimbangkan kembali dengan evaluasi menyeluruh demi menghindari kejadian serupa di masa depan. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bahwa keamanan pangan di lingkungan sekolah harus diutamakan agar proses belajar mengajar tidak terganggu dan anak-anak dapat tumbuh sehat dan produktif.


































