Kenapa harusaku?

Tempat yg aku kira aman dan membuat nya bahagia justru jadi tempat yg mengukir trauma masa kecil nya, anak ku lahir di keluarga yang tidak semua kemauan nya bisa dia dapatkan sekali ucap, tapi selalu kami beri kesempatan berbicara, kasih sayang yg sederhana, dia merasa dunia ini baik seperti isi rumah nya, tapi begitu dia keluar dan melihat kehidupan dia di sambut dengan luka, kepribadiannya berubah, kepercayaan diri nya turun, dan selalu merasa bersalah kepada diri sendiri.

di rumah dia tidak di perlihatkan cara melukai, memukul, dan berteriak ketika marah, tapi di luar dia jadi sasaran teriak dan cacian teman²nya. satu hari dia merasa sepi saat teman dekat nya tidak masuk sekolah, dari situ terungkap selama ini anak ku yg aku anggap baik2 saja terluka. 2tahun mencari jalan keluar sendiri dan menahan semua sendiri, kenapa apa yang ada di isi kepala pembully, apa yg mereka alami di lingkungan rumah mereka, apa yg diperbuat orang tua mereka, kenapa begitu.

Anak ku memberikan pertanyaan yang membuat dada ku sesak "ibuk kenapa aku hitam?, ibuk kenapa apa kita orang miskin?, ibuk aku bau ya?, ibu aku gak usah bermain sama banyak temen ya, aku main sendiri aja aman kok. aku tanya perlahan dan ketemu jawaban, dia tertekan dan merasa insecure karena ucapan teman nya yg berkali dia dengar setiap hari setiap masuk sekolah. Peran berbeda-beda 4 orang punya tugas nya masing, yang dua bagian mengintimidasi lewat tatapan mata dan gerak bibir yang mengancam, yang dua lagi membully verbal (Jangan main sama Fal , dia bau, gak cantik, miskin, baju nya jelek², hitam , gak pernah bawa mobil) ketika anak ku nangis dan sakit hati sebagian dari mereka bilang "alah gitu aja nangis cengeng, kalo dilaporin Bu guru nanti kita bilangin temen sekelas biar gak mau main sama fal semua". Tapi Fal kuat dia tetap masuk sekolah walaupun harus nangis di depan gerbang sekolah ketika ditinggal pulang, meskipun harus menahan rasa kesal nya dan bermain sendiri, meskipun dia rasa nya ingin membalas tapi masih punya hati.

Fal : Gpp buk aku tau rasa nya di pukul itu sakit mereka aja kalo di pukul sama teman lain nangis, jadi aku gak mau bales atau mukul, gpp buk mereka bilang gitu nanti kalo ada rejeki beli baju sama mobil yg bagus ya buk. pecah tangis ku sakit hati ku 💔💔💔💔💔💔 kuat anak ku Ya Allah.

SERIUS BUND JANGAN PERNAH MENGANGGAP ANAK CERIA KONDISI BATIN NYA BAIK BAIK SAJA , JANGAN MENYEPELEKAN ANAK ANAK, KARENA DI AWALI DARI ANAK ANAK AKAN TERBAWA SAMPAI DEWASA.

#nobullying #stopbuyingthisitem #parentinglife #bullyverbal #fypã‚·

2025/8/5 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSebagai seorang ibu yang menyaksikan anak saya menghadapi bullying verbal dan intimidasi terus-menerus di sekolah, saya semakin menyadari pentingnya peran kita dalam memahami dan mendukung kondisi batin anak. Tidak sedikit anak yang tampak ceria di rumah, namun menyimpan luka mendalam akibat perlakuan teman di luar sana. Dalam situasi anak saya, ucapan-ucapan yang melukai seperti "kenapa aku hitam?", "kita orang miskin?", dan "bau" bukan hanya sekadar kata-kata, tetapi menjadi beban psikologis yang besar. Ini menghambat rasa percaya dirinya dan membuatnya cenderung menarik diri dari pergaulan. Saya belajar untuk selalu menyediakan ruang bicara tanpa menghakimi supaya ia bisa mengekspresikan perasaannya secara terbuka. Selain itu, pengalaman ini mengajarkan saya sebagai orang tua pentingnya mengajarkan anak untuk mencintai diri sendiri dan tidak terpengaruh oleh penilaian negatif orang lain. Kami berusaha menanamkan nilai bahwa harga diri dan kebahagiaan berasal dari dalam diri, bukan dari apa yang dikatakan orang lain. Kita juga menguatkan sikap empati supaya anak tetap memiliki hati yang lembut meskipun disakiti. Saya juga mengajak para orang tua untuk lebih peka dan tidak menyepelekan tanda-tanda kesedihan atau perubahan perilaku anak. Anak yang terlihat ceria belum tentu batinnya baik-baik saja. Sehingga, penting untuk terus memonitor dan memberikan dukungan emosional yang konsisten. Melalui kisah anak saya ini, saya berharap semakin banyak orang tua dan guru yang memahami bahwa bullying bisa meninggalkan luka yang dalam. Mari bersama kita hentikan bullying dan ciptakan lingkungan yang aman, baik di rumah maupun sekolah. Anak-anak harus tumbuh dalam kasih sayang dan kepercayaan, supaya mereka bisa menjadi pribadi kuat dan bahagia tanpa harus mempertanyakan "kenapa harus aku?".