Itu kenapa ya kira - kira? Hmmm....🤔
Hai lemonade, tahu nggak sih kenapa dinamakan LINGKARAN SETAN KEMISKINAN??
Eitss, eits tunggu dulu..Ini bukan tentang setan yaa..
bukan sama sekali.
Tapi ini #TentangKehidupan yang terjadi terus-menerus dan berulang-ulang tiada henti.
1. ORANG MISKIN NEKAT KAWIN DAN BERANAK PINAK YANG BANYAK, DENGAN PIKIRAN BAHWA ANAK ADALAH INVESTASI JANGKA TUA.
2. ANAK DIBESARKAN ALAKADAR NYA SAJA
3. ANAKNYA TUMBUH JADI GENERASI SANDWICH, MENANGGUNG BIAYA HIDUP ORANG TUA DAN SAUDARANYA
4. ANAK DIPAKSA NIKAH MUDA KARENA DI ANGGAP BEBAN KELUARGA
5. ANAK MENGULANGI SIKLUS KEMISKINAN ORANG TUA NYA
Kalau bukan dimulai dari kita, lalu siapa yang akan memutus rantai ini?
Kalau ngomongin lingkaran setan kemiskinan, sebenarnya banyak banget yang relate tapi jarang berani jujur. Aku sendiri lahir di keluarga sederhana di kampung, latar belakangnya mirip gambar pedesaan dengan pohon kelapa dan tanah berlumpur yang sering kita lihat. Dari kecil aku sudah lihat gimana siklus kemiskinan itu muter terus. Orang tua nikah muda karena "ya sudah waktunya", bukan karena sudah siap finansial. Anak dianggap sebagai investasi jangka tua, harapannya nanti kalau besar bisa bantu orang tua. Tapi di tengah jalan, untuk makan harian saja kadang susah, apalagi mikir biaya sekolah dan pengembangan diri anak. Di sinilah lingkaran setan kemiskinan mulai jelas kelihatan. Anak dibesarkan ala kadarnya, bukan karena orang tua nggak sayang, tapi karena memang terbatas: terbatas waktu, uang, pengetahuan. Pendidikan sering dianggap biaya, bukan investasi. Akhirnya banyak anak yang putus sekolah atau ambil jurusan apa saja yang penting murah dan cepat lulus. Begitu dewasa, anak tadi otomatis jadi generasi sandwich: gajinya yang nggak seberapa harus bagi ke banyak pos—biaya hidup sendiri, bantu orang tua, bantu adik-adik. Mau nabung rasanya mustahil, apalagi investasi. Hidup seperti selalu kejar-kejaran sama tagihan. Lalu muncul tekanan nikah muda. Alasannya macam-macam: biar ada yang bantu ekonomi keluarga, biar nggak jadi beban lagi, atau sekadar ikut omongan tetangga. Padahal, nikah tanpa persiapan justru menambah lingkaran setan kemiskinan. Dua orang yang belum siap ekonomi dan mental, punya anak, lalu mengulang pola yang sama. Menurutku, memutus lingkaran setan kemiskinan memang nggak bisa instan dan nggak bisa cuma mengandalkan satu orang. Tapi biasanya harus ada satu generasi yang "nekat beda". Nekat untuk lebih kritis sebelum nikah, nekat fokus dulu ke pendidikan dan skill, nekat bilang tidak terhadap budaya punya anak banyak tanpa perhitungan. Yang aku pelajari pelan-pelan: 1. Belajar soal pengelolaan keuangan dasar: bedain kebutuhan dan keinginan, punya dana darurat sedikit demi sedikit. 2. Anggap pendidikan dan skill itu jalan keluar utama. Kursus online gratis, baca buku digital, ikut webinar, semua bisa jadi cara keluar dari stagnasi. 3. Berani ngobrol terbuka dengan keluarga soal rencana hidup: kapan mau nikah, berapa anak ideal sesuai kemampuan, dan bagaimana dukungan keluarga. 4. Cari lingkungan pertemanan yang punya visi mirip: sama-sama mau keluar dari lingkaran setan kemiskinan, bukan cuma mengeluh. Memutus rantai ini kadang bikin kita dianggap "anak durhaka" karena nggak ngikut pola lama. Tapi kalau tidak ada yang mulai, seperti di pertanyaan "tahu gak kenapa dinamakan lingkaran setan kemiskinan?", lingkaran itu akan terus berputar. Menurutku, memulai dari langkah kecil yang realistis jauh lebih baik daripada pasrah dengan nasib. Kalau kamu juga merasa berada di posisi generasi sandwich, kamu nggak sendirian. Pelan-pelan cari cara yang paling mungkin di kondisi sekarang, bukan cara yang sempurna. Yang penting, ada satu keputusan sadar dalam hidupmu yang nggak lagi ikut arus lingkaran setan kemiskinan.

bener .. mertua ku yang anak nya banyak aja nyuruh kami buat tunda dulu buat punya anak lagi, lebih baik kehidupan stabil , baru pikirin tambah anak