Di antara gejolak hati yang kian hari kian meresahkan.
Naluri keibuan yang aku rasakan.
Melebihi dari hasratku menjadi wanita karir.
Memang, menjadi seorang Ibu membuatku menjadi seorang yang berbeda. Selalu mengutamakan anak-anak ketimbang diri sendiri. Karena tanggunh jawab sebagai madrasah pertama. Karena aku sudah dititipi, jadi aku harus jaga sepenuh hati.
Toh, menghasilkan duit bukan hanya di luaran saja. Di dalam rumah juga bisa, karena kecanggihan teknologi sangat membantu kita sebagai IRT. Tetap bisa menghasilkan cuan, walau hanya di rumah saja.
Enak sekali kan?
Gimana menurutmu, era canggih seperti saat ini apakah membantumu dalam hal menghasilkan cuan?
2025/8/8 Diedit ke
... Baca selengkapnyaDulu waktu masih kerja di bank, hidupku kelihatan “ideal”. Pakai seragam rapi, ketemu banyak orang, gajian tiap bulan aman. Tapi setelah punya anak, naluri keibuan itu kuat banget. Rasanya hati selalu kepikiran, anak di rumah sama siapa, tumbuh kembangnya gimana, dan apakah aku benar-benar hadir buat mereka.
Proses memutuskan resign dari bank itu nggak instan. Aku sempat dilema: takut kehilangan penghasilan, takut dibilang sayang karier, takut nyusahin suami. Mungkin kamu yang lagi baca ini juga lagi di fase yang sama: search di Google tentang resign dari bank, cari cerita orang lain yang nasibnya mirip, berharap dapat pencerahan.
Yang akhirnya bikin aku mantap resign adalah ketika aku sadar: masa kecil anak itu nggak bisa diulang. Posisi di kantor bisa dicari, tapi momen pertama anak panggil “ibu”, pertama jalan, pertama ngomong panjang itu cuma sekali. Dari situ aku benar-benar memilih untuk jaga anak di rumah, walaupun artinya harus keluar dari zona nyaman sebagai wanita karier.
Tapi resign dari bank bukan berarti hidupku selesai. Justru setelah di rumah, aku pelan-pelan belajar cari peluang dari hape. Aku ketemu komunitas bisnis MCI, belajar jualan produk, ikut training di STOCKIST MCI, sering hang out sambil silaturahmi sama teman satu circle. Dari situ aku sadar, ibu rumah tangga juga bisa tetap produktif dan punya penghasilan.
Yang paling aku suka, aku bisa tetap asah bakat public speaking. Ada momen aku berdiri di depan ruangan, sharing pengalaman, latihan ngomong di depan banyak orang. Rasanya beda tapi nagih. Apalagi waktu lihat bukti transfer pertama, kedua, sampai seterusnya—nominalnya mungkin nggak langsung besar, tapi itu hasil keringat sendiri sambil tetap bisa gendong bayi di rumah.
Kalau kamu lagi mikir mau resign dari bank dan fokus ke anak, coba pertimbangkan hal-hal ini:
1. Diskusi terbuka sama pasangan soal kondisi finansial.
2. Hitung pengeluaran bulanan dan dana darurat.
3. Cari tahu dulu peluang cuan dari rumah: bisnis online, jualan produk, jadi stokis, freelance, atau bangun personal branding.
4. Jangan takut mulai dari kecil. Dari satu orderan, satu klien, satu transferan kecil pun bisa jadi motivasi.
Menurutku, era digital sekarang benar-benar memudahkan ibu rumah tangga. Dari rumah, sambil jaga anak, kita bisa tetap cari duit, bangun jaringan, dan upgrade diri. Resign dari bank bukan akhir cerita, tapi awal bab baru sebagai ibu yang hadir buat anak, tapi tetap berdaya secara finansial. Kalau kamu lagi galau, wajar kok. Pelan-pelan saja, sambil cari insight dari pengalaman orang lain, sampai kamu nemu jalan yang paling bikin hatimu tenang.
padhal lumayan ya kak kerja di bank tapi gapapa kak kalo rejeki gabakal kemana buktinya kaka juga tetep berpenghasilan🤩