jambu mente
Sejak kecil aku selalu penasaran sama jambu monyet atau jambu mente. Dulu cuma tahu kalau bijinya bisa jadi kacang mete yang enak banget, tapi nggak kebayang gimana cara nanam dan ngerawatnya. Beberapa waktu lalu aku coba budidaya jambu mente sendiri di halaman rumah, dan ternyata nggak sesulit itu kalau tahu langkah dasarnya. Pertama soal bibit. Kita bisa mulai dari biji jambu mente yang sudah tua dan kering, atau beli bibit sambung pucuk/cangkokan. Kalau dari biji, pilih biji yang bentuknya utuh, keras, dan nggak berjamur. Sebelum tanam, aku biasanya rendam dulu bijinya 1–2 jam pakai air hangat kuku, tujuannya biar kulit luarnya agak melunak dan proses berkecambah lebih cepat. Media tanam yang kupakai campuran tanah gembur, kompos atau pupuk kandang matang, dan sedikit pasir biar nggak becek. Perbandingannya kira-kira 2:1:1. Jambu mente nggak suka tanah yang terlalu lembap, jadi penting banget bikin media yang poros. Aku tanam bijinya miring dengan bagian ujung yang runcing sedikit tertutup tanah, jangan terlalu dalam supaya nggak gampang busuk. Untuk penyiraman, di awal aku siram secukupnya saja, biasanya 1 kali sehari pagi atau sore. Kuncinya tanah lembap tapi nggak becek. Setelah bibit mulai tumbuh 10–15 cm dan kelihatan kuat, penyiraman bisa dikurangi, apalagi kalau sudah dipindah ke tanah langsung. Jambu monyet ini termasuk tanaman yang tahan kering, jadi lebih baik agak kurang air daripada kebanyakan. Soal sinar matahari, jambu mente butuh full sun. Di rumah, aku taruh di area yang kena matahari minimal 5–6 jam sehari. Waktu masih kecil sempat aku taruh di tempat agak teduh, pertumbuhannya jadi lambat dan daunnya kurang segar. Setelah dipindah ke tempat yang lebih terbuka, tumbuhnya langsung lebih cepat. Pupuk yang kupakai sederhana saja: kompos atau pupuk kandang matang setiap 2–3 bulan sekali, ditabur melingkar di sekitar batang lalu ditutup tipis tanah. Sesekali aku tambah pupuk NPK dosis rendah untuk merangsang pertumbuhan dan pembuahan, tapi jangan kebanyakan supaya akar nggak “kepanasan”. Hama yang sering muncul di tanamanku biasanya ulat daun dan kutu putih. Kalau masih sedikit, aku cuma petik daun yang terserang dan buang jauh-jauh. Untuk kutu putih, cukup disemprot air sabun lembut. Aku pribadi sebisa mungkin menghindari pestisida kimia karena pohonnya dekat rumah. Untuk masa berbuah, kalau dari biji memang harus sabar, bisa 3–5 tahun baru kelihatan hasilnya. Kalau pakai bibit sambung pucuk biasanya lebih cepat. Waktu pertama kali lihat jambu monyet di pohon sendiri rasanya senang banget, apalagi tahu bijinya nantinya bisa diolah jadi kacang mete. Intinya, budidaya jambu mente itu cocok buat yang punya lahan nggak terlalu luas dan suka tanaman yang tahan banting. Asal dapat matahari cukup, media tanam nggak becek, dan rutin dikasih pupuk organik, peluang hidupnya besar dan berbuah juga insyaAllah menyusul. Buat kamu yang dari dulu cuma lihat jambu monyet di pasar, nggak ada salahnya coba tanam sendiri di rumah.













🍋 Welcome to Lemon8! 🍋 Seneng banget lihat kamu posting! 🎉 Dapatkan tips agar konten kamu makin populer dengan follow @Lemon8Indonesia! Yuk posting lebih banyak konten lainnya! 🤩