✨PENGANTIN SEMARANGAN ✨
Manten Semarang dikenal dengan nama encik untuk mempelai wanita dan totok kaji untuk mempelai pria
Manten Semarangan memiliki ciri khas yang unik
Kebaya hingga rias yang ditampilkan merupakan perpaduan budaya Jawa, Melayu, Cina, dan Arab. Ada samurai, endog remek, sejumlah perhiasan yang dikenakan, hingga pilis berbentuk Allah
manten Semarangan mengandung unsur berbagai macam budaya meliputi Cina, Melayu, Arab, dan Jawa.
Dari segi busana, baju pengantin berkerah shanghai yang menunjukan budaya Cina.
Baju kebaya berwarna hitam menunjukan budaya Jawa.
#pengantinsemarangan #pengantinsemarang #harpimelatisemarang #harpimelati #pengantinadat
Waktu nyiapin pernikahan, aku sempat banget bingung mau pakai rias pengantin Semarangan atau paes Solo putri. Keduanya sama-sama cantik, tapi nuansa dan maknanya ternyata cukup beda, jadi aku lumayan lama cari referensi dan tanya-tanya ke MUA. Kalau pengantin paes Solo putri itu identik dengan nuansa Jawa klasik yang anggun dan halus. Paes-nya hitam di dahi dengan bentuk lengkung-lengkung khas, rambut biasanya disanggul besar, dan ada cunduk mentul serta bunga melati yang menjuntai. Kesan yang ditampilkan lebih ke putri keraton: kalem, lembut, dan elegan. Busananya biasanya kebaya atau beskap dengan kain batik, dan banyak yang pilih warna-warna klasik seperti hijau, emas, atau cokelat. Sementara manten Semarangan, seperti yang aku pakai, lebih unik karena menggabungkan beberapa budaya sekaligus: Jawa, Cina, Melayu, dan Arab. Dari segi busana, ada kerah shanghai yang kuat banget nuansa Cinanya, tapi kebayanya justru hitam yang menunjukan budaya Jawa. Lalu dari aksesori, ada samurai, endog remek, perhiasan-perhiasan khas, dan pilis (hiasan di dahi) yang bentuknya tulisan Allah. Jadi, pengantin Semarangan itu berasa kaya paket lengkap campuran budaya tapi tetap serasi. Dari segi rias, paes Solo putri biasanya lebih ‘rapi’ dan formal, sedangkan pengantin Semarangan menurutku punya karakter yang lebih berani dan statement. Warna kebaya hitam bikin wajah kelihatan makin tegas dan menonjol, apalagi dipadukan dengan perhiasan yang cukup banyak. Kalau kamu suka tampilan pengantin yang terlihat beda dari kebanyakan, manten Semarangan bisa jadi opsi menarik. Yang juga perlu dipikirin itu suasana acara dan tema dekorasi. Kalau temanya Jawa klasik, paes Solo putri bisa menyatu banget dengan pelaminan dan busana keluarga. Tapi kalau kamu di Semarang atau punya garis keturunan yang dekat dengan budaya Semarang, atau ingin mengangkat kearifan lokal kota Semarang, pengantin Semarangan kerasa lebih ‘ngena’ secara emosional. Banyak juga yang pilih Semarangan karena ingin melestarikan adat yang mulai jarang dipakai. Dari segi foto dan video, dua-duanya sama-sama fotogenik. Paes Solo putri unggul di kesan timeless dan klasik, sedangkan pengantin Semarangan unggul di sisi unik dan detail-detail kecil yang menarik difoto. Waktu aku lihat kembali hasil foto, detail pilis berbentuk Allah dan perpaduan kebaya hitam dengan perhiasan benar-benar bikin look-nya khas. Saran dari aku, kalau kamu lagi galau antara paes Solo putri dan pengantin Semarangan, coba diskusi terbuka dengan MUA. Tanyakan cocoknya dengan bentuk wajah, warna kulit, tema pernikahan, sampai budget. Beberapa MUA juga bisa menyesuaikan paes Solo putri agar lebih soft atau bikin rias Semarangan yang nggak terlalu berat, jadi tetap nyaman dipakai seharian. Pada akhirnya, yang paling penting itu kamu merasa nyaman dan merasa ‘ini aku banget’ saat jadi pengantin. Mau pilih paes Solo putri yang klasik atau pengantin Semarangan yang kaya budaya, dua-duanya sama-sama cantik dan punya nilai tradisi yang dalam.












































































