Ternyata cuma PHP
Bolak balik jauh-jauh menanyakan status diterima atau tidak, sampai ijin ke sekolah Bryan.
Kalau memang tidak mau terima kenapa harus diperlambat, kenapa terlihat masih memberi harapan.
Padahal Bryan sekarang sudah cukup baik, hanya komunikasi memang terhambat, untuk itu kami ingin coba memancing dy bicara, masukkan ke sekolah regular, agar bisa berbaur.
Kalau di sekolah sekarang kan tidak ada anak-anak yang bisa ajak komunikasi.
Jadi ya bagaimana bisa ada kemajuan 🥲
Bryan sudah mulai sering ikuti gaya-gaya teman yang disukainya, dia sudah mulai memperhatikan.
Tapi masih saja ditolak. Kami tidak mencari akademik, hanya ingin mencoba membuatnya berkomunikasi, itu saja. Kami tidak akan menuntut untuk membuat anak kami pintar.
Kalau memang tidak naik kelas, kami akan ulang lagi sampai naik kelas , karena kami tau diri #Seandainya #autisme #bryanautisme
Sebagai orang tua dari anak dengan autisme, kami sangat memahami pentingnya lingkungan sekolah yang mendukung perkembangan sosial dan komunikasi anak. Bryan sudah mulai menunjukkan minat terhadap gaya-gaya teman-temannya, dan kami percaya bahwa interaksi sosial akan sangat membantu kemajuannya. Sayangnya, upaya kami memasukkan Bryan ke sekolah reguler terhambat oleh birokrasi dan sikap yang kurang mendukung. Proses permohonan yang lama dan berlarut-larut, bahkan hingga tiga bulan tanpa kejelasan, membuat kami merasa frustasi. Pernah kami merasa seperti harus memohon agar Bryan diterima, padahal seharusnya anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk mengakses pendidikan yang inklusif. Kami juga mengingatkan bahwa autisme bukanlah penyakit yang harus disembuhkan, melainkan kondisi yang perlu dipahami dan diterima. Sekolah yang inklusif bukan hanya tentang akademik, tapi juga menyediakan peluang bagi anak seperti Bryan untuk belajar berkomunikasi dan bersosialisasi. Pengalaman kami ini membuka wawasan bahwa masih banyak sekolah yang belum sepenuhnya siap menerima anak dengan kebutuhan khusus. Hal ini menjadi tantangan bagi orang tua untuk terus memperjuangkan hak anaknya agar mendapat pendidikan yang layak. Jika Anda memiliki pengalaman serupa, jangan ragu untuk saling berbagi dan mendukung satu sama lain. Bersama kita bisa mendorong perubahan menuju pendidikan yang lebih inklusif dan ramah bagi anak berkebutuhan khusus.