... Baca selengkapnyaWaktu ikut kajian tentang “Meraih Cinta Nabi dengan Sunnahnya”, hal yang paling nyantol buatku adalah bahwa cinta Rasulullah itu bukan cuma di lisan. Bukan sekadar bilang “cinta Nabi” atau sering share ilustrasi baginda Rasulullah Muhammad di sosmed, tapi gimana sunnah beliau benar-benar hadir dalam ibadah dan aktivitas harian kita.
Salah satu yang paling sering dibahas adalah cara sholat sunnah. Dulu aku pikir sholat sunnah itu ya cuma tahajud dan dhuha, ternyata jenisnya banyak dan masing-masing punya keutamaan sendiri. Misalnya:
1. Sholat Sunnah Rawatib
Ini sholat sunnah yang mengiringi sholat wajib. Ada yang muakkadah (sangat dianjurkan) seperti 2 rakaat sebelum Subuh, 2/4 rakaat sebelum Zuhur dan 2 rakaat sesudahnya, 2 rakaat setelah Maghrib, dan 2 rakaat setelah Isya. Katanya, kalau kita jaga rawatib, Allah akan menyempurnakan kekurangan di sholat wajib kita. Aku pribadi mulai dari yang paling ringan dulu: 2 rakaat sebelum Subuh, karena itu yang paling besar pahalanya.
2. Sholat Dhuha
Sholat sunnah yang dikerjakan setelah matahari naik (kurang lebih jam 7–10 pagi). Minimal 2 rakaat, maksimal 12 rakaat. Buatku, sholat dhuha itu momen curhat sambil minta dimudahkan rezeki dan aktivitas hari itu. Nggak harus lama, yang penting rutin.
3. Sholat Tahajud
Ini favorit banyak orang tapi juga paling berat. Dikerjakan di sepertiga malam terakhir setelah tidur dulu. Rasanya beda banget ketika bangun, wudhu, lalu sholat dalam suasana sepi. Di kajian dijelaskan, kalau kita ingin merasakan manisnya iman dan dekat dengan Allah, coba jaga tahajud meski 2 rakaat saja.
4. Sholat Witir
Biasanya dikerjakan sebagai penutup sholat malam, bisa 1, 3, 5 rakaat dan seterusnya (bilangan ganjil). Ustazah di kajian bilang, jangan sampai kita terbiasa tidur tanpa witir, karena ini termasuk sunnah yang sangat ditekankan.
Selain sholat, ada juga sunnah-sunnah ringan yang sering dilupakan, tapi pahalanya besar. Contohnya, senyum ke orang lain, mengucap salam duluan, makan dengan tangan kanan, memakai siwak atau sikat gigi sebelum sholat, dan memperbanyak dzikir seperti “Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar”. Hal-hal kecil ini sebenarnya bisa banget kita selipkan di rutinitas sehari-hari.
Dari kajian itu aku juga jadi paham, mencintai Rasulullah bukan harus lewat gambar atau ilustrasi wajah Nabi Muhammad (yang memang tidak diajarkan), tapi justru dengan menjaga adab, akhlak, dan sunnah beliau. Misalnya lebih lembut ke keluarga, peduli sama sesama, dan nggak cuek sama urusan umat.
Yang paling menenangkan adalah penjelasan bahwa sunnah itu perhiasan iman. Kalau kita belum mampu mengamalkan semuanya, jangan langsung putus asa. Mulai dari satu amalan yang paling mudah, jaga sampai jadi kebiasaan, baru tambah lagi. Pelan-pelan, tapi istiqamah. Karena di akhirat nanti, sunnah yang kita jaga inilah yang insyaAllah menjadi sebab datangnya syafaat Rasulullah untuk kita.