Perubahan selera adalah hal yang wajar terjadi pada setiap individu dari waktu ke waktu. Dari pengalaman pribadi, saya pernah merasakan bagaimana selera saya berubah drastis dalam hal makanan, musik, hingga cara berpakaian. Awalnya, perubahan ini membuat saya merasa bingung dan terkadang tidak nyaman karena harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sempat saya hindari. Contohnya, ketika seseorang yang dulu memperlihatkan selera tertentu tiba-tiba mengatakan hal yang bertolak belakang bahkan menggunakan kata-kata seperti "najis waktu itu" untuk menggambarkan sesuatu yang dulu ia sukai. Hal ini sebenarnya bisa menjadi bentuk refleksi diri mengenai apa yang pernah dianggap penting dan bagaimana pandangan hidupnya berkembang. Proses ini mendorong saya untuk introspeksi lebih dalam tentang sebab perubahan tersebut. Apakah karena pengalaman baru, pengaruh lingkungan, atau pemahaman yang lebih luas terhadap diri sendiri? Menerima perubahan itu membutuhkan sikap terbuka dan fleksibilitas, serta tidak langsung menghakimi diri sendiri atau orang lain yang mengalami hal serupa. Bagi yang sedang mengalami pergantian selera atau ketidaksesuaian antara apa yang dulu dan saat ini, penting untuk menyadari bahwa ini adalah bagian dari perjalanan hidup. Mendengarkan diri sendiri dengan jujur tanpa tekanan eksternal akan membantu menemukan keaslian pilihan yang sesuai pada masa kini. Jadi, jangan takut untuk berubah dan menyuarakan perubahan tersebut, karena perubahan bisa menjadi pertumbuhan yang membuat kita lebih dewasa dan bijaksana.
4/9 Diedit ke
