... Baca selengkapnyaJujur, aku dulu termasuk orang yang merasa semua momen itu wajib diposting. Sampai akhirnya sadar, nggak semua hal pantas jadi konsumsi publik. Dari situ aku mulai belajar pelan-pelan untuk jadi "wanita berkelas" versi diriku sendiri: yang tau mana yang cukup dinikmati pribadi, mana yang boleh dibagikan.
Hal pertama yang aku ubah adalah soal drama hubungan. Kalau lagi berantem sama pasangan, dulu aku sering banget update story kode-kodean. Hasilnya? Masalah nggak selesai, malah bikin orang lain kepo dan menilai hubungan aku. Sekarang kalau ada apa-apa, aku pilih diselesaikan secara pribadi, bukan diposting. Ternyata jauh lebih menenangkan.
Masalah keluarga juga begitu. Semua keluarga pasti punya konflik, tapi nggak semua harus dipamerkan. Menurutku, menjaga aib keluarga itu bagian dari bentuk sayang. Wanita berkelas bukan berarti hidupnya selalu sempurna, tapi dia tahu apa yang layak dibagikan dan apa yang cukup jadi urusan internal.
Soal uang dan transferan juga jadi hal yang mulai aku tahan. Dulu seneng banget posting kalau baru gajian, dapat bonus, atau dibayarin. Padahal, di balik itu bisa memicu rasa iri orang lain, bahkan bisa undang niat jahat. Sekarang kalau lagi rezeki lancar, aku lebih milih bersyukur diam-diam dan berbagi tanpa kamera.
Aku juga belajar untuk nggak sembarangan posting isi chat orang lain. Kadang kita ngerasa lucu atau pengin validasi dari orang lain, tapi itu tetap aja privasi. Apalagi kalau tanpa izin. Wanita berkelas menurutku adalah yang bisa dipercaya untuk menyimpan cerita orang lain, bukan menjadikannya konsumsi konten.
Foto menangis atau breakdown juga jadi salah satu yang aku stop posting. Bukan berarti kita harus pura-pura kuat terus, tapi ada cara yang lebih sehat untuk mencari bantuan, misalnya curhat ke teman dekat, profesional, atau journaling. Media sosial nggak selalu tempat yang tepat untuk memamerkan titik terlemah kita.
Drama status hubungan pun begitu. Gonta-ganti status, sindir-sindiran, hapus-upload foto berulang kali, itu dulu banget versiku. Sekarang kalau pacaran atau dekat dengan seseorang, aku belajar nikmati prosesnya dulu. Kalau memang sudah matang dan serius, baru deh diposting seperlunya.
Hal lain yang sering banget kebablasan adalah posting barang branded yang baru dibeli. Sesekali nggak masalah, tapi kalau setiap belanja harus dipamerkan, lama-lama kelihatan butuh pengakuan. Menurutku, wanita berkelas itu kelihatan dari sikap, bukan dari logo yang menempel di tubuhnya.
Pekerjaan orang lain juga bukan bahan konten. Misalnya merendahkan profesi tertentu di media sosial, padahal kita nggak tahu perjuangannya seperti apa. Sekarang aku selalu berusaha lebih hati-hati dalam berpendapat, apalagi di platform yang bisa dilihat banyak orang.
Curhatan marah-marah juga sudah aku kurangi banget. Dulu kalau kesal, langsung lari ke story. Tapi setelah dipikir-pikir, orang lain juga punya masalah sendiri. Nggak semua harus ikut memikul emosi kita. Lebih baik tarik napas, tenangkan diri, baru ngomong kalau memang perlu.
Dan yang paling penting: kehidupan yang terlalu pribadi. Ada bagian hidup yang lebih indah kalau hanya kita, keluarga, dan orang terdekat yang tahu. Semakin dewasa, aku merasa tenang ketika tidak semua hal diposting. Rasanya lebih damai, nggak perlu validasi berlebihan, dan fokusnya balik ke pengembangan diri.
Jadi, kalau kamu lagi dalam fase ingin glow-up, coba mulai dari sini: sadar bahwa tidak semua harus diposting. Bukan berarti antisosial, tapi belajar memilih. Justru dengan memilah, kita menunjukkan bahwa kita punya kontrol atas hidup sendiri, bukan dikendalikan oleh keinginan untuk selalu terlihat di media sosial.
Saya tidak pernah post semua yg tsb. Saya selalu mengingat 2 pesan almh Mama :
1. Jangan pernah cerita apapun ke siapapun, (termasuk kk/adek kandung, kecuali hanya kepada Tuhanmu), karena Bunglon beda tempat beda warna.
2. Kalau kau bahagia dalam hidupmu, cukup diam, nikmati, & bersyukur, cukup kamu & Tuhanmu yang tau, karena kita nggak pernah tau isi hati orang lain aslinya seperti apa, kalau kita bercerita kebahagiaan kita.
Ingat aja yg no. 1 🤭
Saya tidak pernah post semua yg tsb. Saya selalu mengingat 2 pesan almh Mama : 1. Jangan pernah cerita apapun ke siapapun, (termasuk kk/adek kandung, kecuali hanya kepada Tuhanmu), karena Bunglon beda tempat beda warna. 2. Kalau kau bahagia dalam hidupmu, cukup diam, nikmati, & bersyukur, cukup kamu & Tuhanmu yang tau, karena kita nggak pernah tau isi hati orang lain aslinya seperti apa, kalau kita bercerita kebahagiaan kita. Ingat aja yg no. 1 🤭