Bangkok — Ajang Miss Universe 2025 diwarnai insiden mengejutkan ketika sejumlah kontestan memilih walk out dari acara penyematan selempang (sashing ceremony) yang digelar di Bangkok, Thailand.
Kericuhan bermula saat penyelenggara asal Thailand, Nawat Itsaragrisil, menegur perwakilan Meksiko, Fátima Bosch, di depan publik karena diduga menolak mengikuti beberapa kegiatan resmi. Momen tersebut terekam dalam siaran langsung dan memicu suasana tegang di lokasi.
Merasa dipermalukan, Fátima Bosch meninggalkan acara sambil menangis. Tak lama kemudian, Miss Universe 2024, Victoria Kjær Theilvig, bersama beberapa kontestan lain seperti Isabella Zabaneh dari Belize, turut keluar dari ruangan sebagai bentuk dukungan.
Victoria kemudian mengunggah pernyataan di media sosial yang berbunyi, “This is women empowerment. This is sisterhood. Forever and always,” menandakan aksi solidaritas sesama finalis Miss Universe.
Menurut laporan media lokal, beberapa peserta bahkan sempat tertahan karena pintu lokasi dikunci selama acara berlangsung. Namun, situasi akhirnya mereda setelah panitia membuka akses keluar dan membiarkan peserta meninggalkan tempat.
Hingga kini, pihak Miss Universe Organization (MUO) belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Publik menilai kejadian ini mencoreng citra ajang kecantikan bergengsi dunia yang selama ini mengusung nilai empowerment dan kebersamaan perempuan.
Insiden walk out dalam acara penyematan selempang (sashing ceremony) Miss Universe 2024 yang berlangsung di Bangkok menarik perhatian banyak pihak karena mencerminkan dinamika hubungan antar peserta dan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung dalam ajang kecantikan internasional. Kejadian bermula ketika Fátima Bosch, perwakilan dari Meksiko, mendapat teguran langsung dari penyelenggara Thailand, Nawat Itsaragrisil, atas dugaan ketidakhadirannya dalam beberapa rangkaian kegiatan resmi. Teguran yang terjadi secara terbuka ini menyebabkan Fátima merasa dipermalukan hingga akhirnya meninggalkan acara dalam kondisi menangis. Respon dari sesama kontestan yang melakukan walk out bersama Miss Universe 2024 Victoria Kjær Theilvig dan Isabella Zabaneh dari Belize menunjukkan solidaritas dan dukungan terhadap sesama perempuan, menegaskan bahwa acara ini bukan hanya kompetisi, tetapi juga tentang pemberdayaan perempuan (women empowerment) dan rasa kebersamaan (sisterhood). Unggahan Victoria di media sosial menegaskan bahwa solidaritas antar finalis menjadi pesan kuat bahwa mereka saling mendukung dalam menghadapi tekanan dan tantangan selama kompetisi berlangsung. Selain itu, situasi di lokasi sempat memanas saat pintu ruang acara dikunci sehingga membuat beberapa peserta terkunci dan tidak bisa keluar, menambah ketegangan dan keprihatinan atas manajemen acara. Walaupun akhirnya akses keluar dibuka dan peserta diizinkan meninggalkan ruang acara, kejadian ini tetap meninggalkan kesan negatif terkait profesionalisme penyelenggaraan acara. Hingga kini, Miss Universe Organization (MUO) belum memberikan pernyataan resmi yang dapat menjelaskan atau menenangkan suasana. Kejadian ini menimbulkan perdebatan di publik tentang bagaimana organisasi acara besar seperti Miss Universe harus lebih mengedepankan nilai-nilai penghargaan terhadap peserta, khususnya dalam menjaga martabat dan menciptakan lingkungan yang inklusif. Solidaritas yang ditunjukkan oleh kontestan lewat aksi walk out menjadi contoh nyata bahwa perempuan di dunia modern semakin sadar akan pentingnya saling mendukung dan menolak perlakuan yang tidak adil. Sebagai pemirsa dan pendukung, kita dapat mengambil pelajaran bahwa di balik kemilau dan gemerlap panggung kecantikan, ada sisi manusiawi para peserta yang membutuhkan empati dan dukungan. Bahkan di ajang sebesar Miss Universe, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya komunikasi yang baik dan rasa hormat antar semua pihak agar nilai pemberdayaan perempuan tetap terjaga dan menjadi inspirasi bagi generasi muda di seluruh dunia.












