Penyaluran Beasiswa Berlanjut Secara Marathon, Rapidin Salurkan Bantuan bagi 148 Pelajar Kurang Mampu di Tapanuli Tengah
Aula Katolik Center di Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, dipenuhi pelajar berseragam sekolah yang datang bersama orang tua mereka, Minggu, 2 Agustus 2026. Satu per satu, sebanyak 148 siswa dari keluarga kurang mampu menerima beasiswa pendidikan yang diperjuangkan Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara sekaligus anggota DPR RI, Rapidin Simbolon.
Penyaluran bantuan itu menjadi bagian dari rangkaian distribusi beasiswa yang dilakukan secara marathon di berbagai daerah di Sumatera Utara. Sebelumnya, program serupa telah menjangkau daerah-daerah terpencil di Kabupaten Toba, Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Labuhanbatu Utara, dan dijadwalkan berlanjut ke Kepulauan Nias serta kawasan Tapanuli Bagian Selatan.
Dalam penyerahan beasiswa tersebut, Rapidin didampingi Bupati Tapanuli Tengah Mashinton Pasaribu, Kepala Dinas Pendidikan Tapanuli Tengah Johnson Simanjuntak, Ketua DPC PDI Perjuangan Tapanuli Tengah Timbul Panggabean, serta Ketua Komisi B DPRD Sumatera Utara Sorta Ertatay Siahaan.
Besaran bantuan disesuaikan dengan jenjang pendidikan, yakni Rp450 ribu untuk siswa sekolah dasar, Rp700 ribu bagi siswa sekolah menengah pertama, dan Rp1,8 juta untuk siswa SMA sederajat.
Di hadapan para orang tua dan pelajar, Rapidin menegaskan bahwa pendidikan merupakan hak setiap warga negara yang dijamin konstitusi. Namun, menurut dia, keterbatasan anggaran yang benar-benar sampai kepada masyarakat masih menjadi persoalan yang harus dibenahi.
Ia menilai kebocoran anggaran akibat praktik korupsi membuat ruang fiskal untuk sektor pendidikan menjadi tidak maksimal. Rapidin kemudian menyinggung sejumlah kasus korupsi yang belakangan menjadi perhatian publik sebagai contoh bagaimana uang negara semestinya dapat dialihkan untuk memperluas akses pendidikan.
Dalam kesempatan itu, ia juga kembali mengkritisi skema Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Rapidin, pola penyaluran program tersebut masih membuka terlalu banyak mata rantai, mulai dari penyedia bahan baku, pengelola dapur hingga pihak lainnya, sehingga berpotensi mengurangi efektivitas penggunaan anggaran.
"Menurut saya, akan lebih tepat bila anggaran itu diberikan langsung kepada orang tua siswa. Mereka tentu lebih memahami kebutuhan anak-anaknya sendiri. Dengan begitu manfaatnya bisa lebih tepat sasaran," kata Rapidin.
Pernyataan tersebut mendapat respons dari sejumlah orang tua yang hadir. Beberapa di antaranya mengaku sepakat apabila skema program dievaluasi agar manfaatnya lebih langsung dirasakan keluarga penerima.
Di sela kegiatan, Rapidin juga menyempatkan berbincang dengan para pelajar dan orang tua. Ia berpesan agar dana beasiswa digunakan sepenuhnya untuk kebutuhan pendidikan, seperti membeli perlengkapan sekolah, buku, maupun keperluan belajar lainnya.
"Semoga bantuan ini dipergunakan sebaik-baiknya untuk menunjang pendidikan anak-anak kita," ujarnya.
Rapidin menjelaskan, beasiswa itu merupakan hasil koordinasi lintas komisi bersama Fraksi PDI Perjuangan di DPR RI. Meski tidak bertugas di komisi yang membidangi pendidikan, ia mengaku terus membangun komunikasi agar semakin banyak pelajar di Sumatera Utara memperoleh akses terhadap bantuan pendidikan.
Ia memastikan perjuangan tersebut akan terus dilanjutkan, termasuk mendorong penambahan kuota penerima pada masa mendatang.
"Ke depan akan terus kita upayakan penambahan kuota beasiswa dan tetap saya perjuangkan melalui lintas komisi bersama Fraksi PDI Perjuangan di DPR RI," kata Rapidin.
Bupati Tapanuli Tengah Mashinton Pasaribu mengapresiasi upaya Rapidin yang dinilainya konsisten memperjuangkan aspirasi masyarakat di tingkat pusat. Menurut dia, bantuan pendidikan tersebut menjadi dukungan nyata bagi keluarga kurang mampu di Tapanuli Tengah.
"Kami berterima kasih kepada Bapak Rapidin yang terus memperjuangkan kebutuhan masyarakat Tapanuli Tengah di tingkat pusat.









