Salah satu manfaat Istighfar
Aku pertama kali dengar kisah penjual roti yang selalu beristighfar dari sebuah kajian singkat di media sosial. Diceritakan ada seorang penjual roti sederhana, tapi hidupnya terasa lapang: dagangan laris, keluarga rukun, dan setiap doa yang dia panjatkan seperti mudah sekali dikabulkan Allah. Rahasianya satu: dia tidak pernah berhenti mengucap istighfar. Konon, kisahnya begini. Suatu hari ada seorang alim yang sedang dalam perjalanan dan butuh tempat menginap. Ia ditolak di banyak rumah, sampai akhirnya penjual roti ini menerimanya bermalam. Saat sedang di rumah, si alim memperhatikan penjual roti ini. Ternyata sambil menguleni adonan, memanggang, dan membungkus roti, lisannya hampir tidak pernah lepas dari kalimat, "Astaghfirullahaladzim... astaghfirullahaladzim." Bukan hanya 5 kali atau 10 kali, tapi berkali-kali tanpa dihitung, seperti sudah menyatu dengan napasnya. Karena penasaran, si alim bertanya: "Apa engkau merasakan manfaat dari istighfar yang engkau baca terus-menerus?" Penjual roti itu menjawab, "Setiap kali aku punya hajat dan aku panjatkan doa, belum pernah sekali pun Allah tidak mengabulkannya. Kecuali satu: aku ingin sekali bertemu seorang alim terkenal yang doanya mustajab, tetapi belum terkabul juga." Lalu si alim itu tersenyum dan berkata, "Doamu baru saja dikabulkan. Akulah orang yang kamu maksud itu." Dari situ makin jelas, istighfar yang tulus bisa jadi sebab terkabulnya doa, meski kita tidak tahu kapan dan dalam bentuk apa. Setelah tahu kisah ini, aku jadi kepikiran dengan kalimat di gambar: kalau kita mengucap "Astaghfirullahaladzim" berulang kali, Allah akan menghapus dosa-dosa kita, bahkan kalau dosa kita sebanyak buih di lautan. Tentu saja bukan soal angka 5 kali atau 10 kali yang ajaib, tapi lebih ke kebiasaan hati yang merasa butuh ampunan. Aku sendiri sekarang mencoba untuk membiasakan istighfar di momen-momen kecil: saat lagi nyuci piring, di jalan, sambil nunggu sesuatu, atau ketika tiba-tiba ingat dosa masa lalu. Kerasa banget efeknya di hati. Kadang masalah masih ada, rezeki juga nggak serta-merta melimpah ruah, tetapi ketenangan itu lain. Waktu lagi sedih atau malu sama dosa sendiri, pelan-pelan ucap "Astaghfirullahaladzim" membuatku merasa masih punya harapan. Kayak diingatkan bahwa pintu ampunan Allah itu nggak pernah tertutup, selama kita mau balik dan benar-benar menyesal. Kalau kamu tertarik mencoba, bisa mulai dari target kecil, misalnya di sela aktivitas ucap istighfar 33 kali dulu, atau setiap kali merasa bersalah langsung tutup dengan istighfar. Lama-lama, insyaAllah lidah jadi terbiasa. Dan siapa tahu, seperti kisah penjual roti yang selalu beristighfar itu, ada doa-doa yang diam-diam Allah kabulkan karena istighfar yang kita ulang-ulang tanpa kita sadari manfaat besarnya. Semoga jadi jariyah juga kalau kamu ikut menyebarkan kebiasaan istighfar ini.









































Lihat komentar lainnya