Amal Soleh itu mesti dipaksakan
Saya pribadi percaya bahwa memupuk kebiasaan amal soleh memang perlu ada elemen pemaksaan di awalnya. Misalnya, bangun subuh untuk sholat tahajud atau mengaji Al-Quran bukan perkara mudah jika hanya mengandalkan niat biasa. Awalnya, saya juga merasa berat dan kerap ingin menyerah, namun dengan konsistensi memaksa diri, semuanya berubah menjadi rutinitas yang nyaman dan menyenangkan. Menurut pengalaman saya, jika kita tidak memaksa diri melakukan amal baik seperti sedekah atau membaca Al-Quran secara rutin, kita cenderung terlena dengan aktivitas harian yang menyita waktu sehingga amal tersebut sulit dilakukan secara konsisten. Seperti pesan dalam tulisan ini, tanpa pemaksaan sejak awal, sulit untuk menghasilkan kebiasaan amal yang terus menerus dan menghasilkan pahala jariyah. Misalnya, saya mulai absen hadir mengikuti kajian subuh secara online meskipun sedang sibuk, karena saya tahu hadir setiap waktu mengaji akan memperkuat iman dan menambah ilmu. Awalnya memang terasa dipaksa, tapi lama kelamaan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan. Hal ini sejalan dengan konsep dalam tulisan ini tentang "paksain ngaji Quran" dan "paksain bisa sedekah" yang bisa menjadi fondasi amal yang berkelanjutan. Yang penting adalah memahami bahwa amal soleh yang dilakukan secara konsisten bisa menjadi investasi pahala yang terus mengalir walaupun kita sudah tiada. Sebagaimana disebutkan bahwa mati tanpa amal soleh adalah mati konyol. Oleh karena itu, membangun kebiasaan ini dengan disiplin dan komitmen adalah kunci agar tidak kehilangan kesempatan beramal selama hidup. Sebagai kesimpulan, saya sangat setuju bahwa memaksa diri untuk melakukan amal soleh di awal memang sulit, tapi sangat penting agar bisa menjadi kebiasaan yang menghasilkan pahala jariyah dan membantu kita menyiapkan bekal yang berharga untuk akhirat.








































