Apakah Adil
Sebagai seseorang yang pernah mengalami rutinitas pagi yang padat, saya sangat memahami betapa sulitnya membagi waktu antara kewajiban duniawi dan spiritual. Saya pun pernah merasa cukup adil jika bangun pagi-pagi untuk menyelesaikan pekerjaan, tetapi kemudian lalai menjalankan ibadah sholat subuh tepat waktu. Namun, setelah menyadari bahwa kesehatan dan kesempatan untuk beraktivitas di pagi hari adalah anugerah dari Allah, saya mulai menilai ulang prioritas saya. Keseimbangan antara mengejar rezeki dan menjalankan ibadah ternyata bukan hanya soal waktu, tetapi juga soal niat dan rasa syukur. Saat kita meninggalkan sholat subuh, kita melewatkan momen spiritual yang sangat berharga, sekaligus mengabaikan bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta. Saya menemukan bahwa memulai hari dengan sholat subuh tidak hanya memberikan ketenangan jiwa, tetapi juga memuat energi positif yang membantu saya lebih fokus dan produktif dalam pekerjaan maupun kehidupan sosial. Ini membuktikan bahwa keadilan dalam kehidupan pagi bukan hanya soal soal fisik, tapi juga soal menjaga hubungan dengan Allah, sumber segala nikmat. Melalui pengalaman ini, saya ingin berbagi bahwa adil kepada diri sendiri dan Sang pencipta seharusnya menjadi prioritas. Karena pada akhirnya, mengejar dunia tanpa menghargai kewajiban spiritual bisa membuat hidup terasa kurang lengkap. Semoga refleksi ini dapat menjadi pengingat agar setiap dari kita meraih dunia dan akhirat dengan cara yang seimbang dan penuh rasa syukur.















