... Baca selengkapnyaDulu aku juga sering mikir, selama anak sudah sering diajak bermain, itu sudah cukup. Tapi setelah coba rutin baca buku cerita bareng anak, terutama buku-buku literasi anak dari toko buku kayak Gramedia, aku baru kerasa banget bedanya.
Saat weekend, aku suka ajak anak-anak ke lorong buku anak. Mereka bebas pilih buku cerita bergambar yang mereka suka. Dari cerita sederhana tentang hewan, persahabatan, atau petualangan, ternyata imajinasi mereka jadi makin luas. Kadang setelah baca, mereka langsung reka ulang cerita pakai mainan di rumah. Di situ aku lihat sendiri kalau buku cerita literasi betul-betul jadi jendela dunia untuk mereka.
Buat yang baru mau mulai, nggak harus langsung beli banyak. Bisa mulai dari satu atau dua buku cerita dengan gambar besar dan teks pendek. Pilih tema yang dekat dengan keseharian mereka: pergi ke sekolah, berbagi dengan teman, atau cerita sebelum tidur. Anak biasanya lebih tertarik kalau tokohnya mirip mereka, misalnya sama-sama suka dinosaurus atau kucing.
Kuncinya, jadikan membaca sebagai momen menyenangkan, bukan tugas. Aku biasanya mulai dengan kalimat simple kayak, “Yuk, weekend vibes reading with kids dulu sebelum main.” Terus aku bacakan dengan ekspresi suara yang beda-beda, kadang ajak mereka tebak akhir cerita. Secara nggak langsung, ini melatih kemampuan bahasa, fokus, dan rasa ingin tahu mereka.
Buku cerita literasi juga bisa dipakai untuk ngobrol hal-hal penting, misalnya sopan santun, emosi, atau keberanian. Setelah selesai baca, aku suka tanya, “Menurut kamu, kenapa tokohnya berani?” atau “Kalau kamu di posisi dia, kamu bakal apa?” Dari situ kelihatan kemampuan anak memahami perasaan dan sudut pandang orang lain.
Kalau lagi nggak sempat ke toko buku, kita bisa manfaatkan perpustakaan, buku bekas, atau pinjam dari teman. Yang penting bukan mahal atau kerennya buku, tapi konsistensi waktu membaca bersama. Bahkan 10–15 menit sebelum tidur pun sudah cukup untuk membentuk kebiasaan.
Buat orang tua yang belum terbiasa baca, nggak apa-apa mulai pelan-pelan. Aku pun awalnya kaku. Lama-lama, momen baca bareng ini justru jadi waktu terbaik kami, bukan cuma saat bermain. Rasanya seperti punya ruang kecil di tengah hari yang sibuk, di mana kita dan anak fokus satu sama lain.
Pada akhirnya, seperti kutipan Nelson Mandela di tas belanja yang pernah aku lihat: education is the most powerful weapon to change the world. Dan buat aku, salah satu bentuk pendidikan paling sederhana dan nyata yang bisa kita berikan sejak dini adalah lewat buku cerita dan kebiasaan literasi di rumah.