Tonton sampai akhir ⚠️
Korban kekerasan dalam hubungan sering kali sulit keluar bukan karena lemah, tetapi karena ada banyak faktor psikologis, emosional, sosial, dan bahkan ekonomi yang saling terkait!
Sebagai seseorang yang pernah mendampingi dan mendukung korban kekerasan dalam hubungan, saya memahami betapa sulitnya proses melepas diri dari situasi tersebut. Faktor trauma bonding yang disebutkan sangat nyata, karena korban sering mengalami siklus kekerasan yang berulang—saat pelaku berperilaku baik, korban merasa berharap, lalu kembali mengalami kekerasan. Kondisi ini menyebabkan zat kimia di otak menciptakan ikatan emosional yang sulit diputus. Selain itu, manipulasi psikologis dan gaslighting pelaku dapat membuat korban meragukan pikiran dan perasaan mereka sendiri, sehingga semakin enggan untuk mencari bantuan atau melaporkan kekerasan yang dialaminya. Ancaman langsung terhadap keselamatan diri dan keluarga juga menjadi penahan kuat untuk keluar dari hubungan beracun. Isolasi sosial juga merupakan taktik pelaku dengan membatasi interaksi korban dengan orang luar, membuat korban merasa kesepian dan kehilangan sumber dukungan emosional. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri dan ketakutan yang mendalam. Saya menyarankan bagi siapa saja yang mengenal korban kekerasan untuk memberikan dukungan emosional yang konsisten, menghindari menyalahkan korban, dan membantu membuka akses ke layanan profesional seperti konseling atau lembaga perlindungan. Membangun kesadaran tentang faktor-faktor psikologis ini dapat mempercepat proses pemulihan dan membangun jalan keluar yang aman bagi korban. Jangan menyerah untuk menjadi pendengar yang baik dan pendukung yang kuat bagi mereka yang terjebak dalam hubungan abusif.
















