They call it “GIDAL” but the dentist calls it dental calculus
Banyak orang, termasuk aku dulu, mikir gidal itu cuma kotoran biasa di gigi yang warnanya kuning dan ganggu penampilan. Apalagi di Jawa, istilah "gidal" udah umum banget dipakai, jadi kesannya sepele. Padahal kalau ditanya ke dokter gigi, gidal adalah karang gigi, yaitu plak yang sudah mengeras dan nempel kuat di gigi dan di bawah gusi. Secara kasat mata, gidal gigi kelihatan seperti lapisan kuning kecokelatan, kadang sampai keabu-abuan, yang nggak hilang walaupun sudah disikat sekuat tenaga. Bedanya dengan noda biasa, gidal ini terasa kasar kalau diraba pakai lidah dan biasanya bikin gusi gampang berdarah saat sikat gigi. Dari pengalamanku sendiri, waktu gusi sering berdarah dan kadang bau mulut nggak hilang-hilang, ternyata penyebab utamanya karang gigi yang numpuk. Yang bikin ngeri, isi gidal itu bukan cuma "kotoran", tapi kumpulan bakteri yang bisa merusak jaringan gusi dan tulang penyangga gigi. Lama-lama gigi bisa jadi goyang bahkan lepas sendiri tanpa rasa sakit hebat sebelumnya. Jadi memang bener, ini bukan cuma soal estetika gigi kuning, tapi soal menyelamatkan gigi untuk jangka panjang. Banyak yang berharap obat kumur, sikat gigi mahal, atau pasta gigi ratusan ribu bisa merontokkan gidal. Dari yang aku alami dan juga penjelasan dokter, kalau plak sudah mengeras jadi karang gigi, semua itu nggak cukup. Obat kumur dan sikat gigi hanya membantu mencegah plak baru, bukan menghilangkan karang gigi yang sudah keras. Solusi yang benar untuk gidal gigi adalah pembersihan karang gigi di dokter gigi menggunakan alat namanya ultrasonic scaler. Prosesnya disebut scaling, bahkan kadang digabung dengan root planing kalau karangnya sudah sampai dalam ke akar gigi. Waktu pertama kali scaling, aku cukup kaget karena bunyi alatnya dan sensasi ngilu sedikit, tapi ternyata masih bisa ditoleransi dan jauh dari kata menyakitkan seperti yang sering orang bayangin. Setelah scaling, gigi terasa lebih bersih dan halus, bau mulut berkurang, dan gusi pelan-pelan jadi lebih sehat. Dokterku juga jelasin pentingnya pencegahan: rajin sikat gigi dua kali sehari, pakai benang gigi untuk bersihin sela gigi, dan kontrol rutin 6 bulan sekali supaya karang gigi nggak keburu numpuk lagi. Buat yang masih bertanya-tanya "gidal adalah apa sih?" atau "gidal gigi berbahaya nggak?", dari pengalaman pribadi, lebih baik jangan disepelekan. Investasi waktu dan biaya untuk scaling sekarang jauh lebih murah daripada harus pasang gigi tiruan nanti karena gigi asli lepas satu per satu. Bayangin aja, di masa tua nanti masih bisa makan daging barbeque atau makanan favorit bareng anak dan cucu karena gigi masih kuat – itu menurutku worth it banget.

















