Lebih berat mana?

Hai Lemony... 🍋

Menjadi working mom atau full IRT itu dua-duanya berat, tapi capeknya beda bentuk.

Yang sering dilupakan itu :

Ibu pekerja bukan ibu egois

Ibu rumah tangga bukan beban

Yang bikin hancur itu bukan pilihan peran, tapi:

pasangan gak suportif

ekonomi gak stabil

kerjaan ibu dianggap “sepele”

#Hello2026 #PengalamanKu #weekendseru

1/4 Diedit ke

... Baca selengkapnyaKalau ngomongin beban ibu rumah tangga, orang sering cuma lihat duduk manis di rumah. Padahal, setelah aku jalani sendiri, rasanya seperti kerja 24 jam tanpa absen, tanpa gaji, dan tanpa hari libur resmi. Pagi-pagi sudah mulai dari beberes rumah, nyiapin sarapan, mandiin anak, beresin cucian yang nggak ada habisnya, belum lagi kalau ada anak tantrum. Capeknya bukan cuma di badan, tapi juga di hati dan pikiran. Kadang aku merasa seperti "capek hati dan pikiran" karena semua hal kecil di rumah jadi tanggung jawab ibu: tisu habis, baju anak belum disetrika, sepatu suami belum dibersihin, dan kalau ada yang kelewat, ibu yang pertama kali disalahkan. Yang bikin berat, beban ibu rumah tangga sering dianggap sepele. Pernah beberapa kali aku dengar komentar, "Kan di rumah aja, santai dong" atau "Enak ya nggak kerja". Padahal di balik itu ada kerja fisik dan mental ganda: mikir menu, atur keuangan rumah, nemenin anak belajar, sampai jadi tempat curhat semua anggota keluarga. Ketika pekerjaan dianggap remeh, muncul rasa nggak dihargai dan itu nambah capek emosional. Selain itu, ketergantungan finansial juga jadi tekanan tersendiri. Ketika statusnya full IRT, kadang muncul rasa nggak enak kalau mau beli sesuatu buat diri sendiri, walaupun cuma skincare atau kopi kesukaan. Ada perasaan, "Ah, uangnya mending buat kebutuhan rumah". Di satu sisi ingin punya me-time, di sisi lain tetap mikirin ekonomi keluarga. Di titik ini aku baru paham maksudnya beban ibu rumah tangga itu bisa terasa sangat berat meskipun kelihatannya "cuma di rumah". Aku juga sempat bandingkan dengan masa ketika aku masih jadi ibu pekerja. Waktu itu capek fisik dan mental ganda banget: di kantor harus produktif, di rumah dituntut tetap sempurna. Rasa bersalah muncul ketika pulang sudah malam, anak sudah ngantuk, dan aku nggak punya banyak waktu buat main. Sementara sekarang, sebagai full IRT, rasa bersalahnya beda: merasa belum cukup sabar, belum cukup kreatif nemenin anak, rumah masih berantakan. Dari pengalamanku, pertanyaan "lebih berat mana? ibu pekerja atau full IRT" sebenarnya nggak ada jawaban pastinya. Yang bikin benar-benar berat itu kombinasi antara kondisi ekonomi yang mepet, pasangan yang kurang suportif, dan lingkungan yang suka meremehkan kerjaan ibu. Kalau suami mau terlibat, mau mendengar, dan nggak menganggap pekerjaan rumah itu kewajiban ibu semata, beban ibu rumah tangga bisa terasa jauh lebih ringan. Sekarang aku belajar untuk lebih jujur soal capek. Kalau lagi nggak kuat, aku bilang butuh bantuan. Aku juga coba kasih batasan: nggak harus rumah selalu rapi sempurna, yang penting anak merasa dicintai dan aku masih waras. Pelan-pelan aku belajar menerima bahwa beban ibu rumah tangga itu nyata dan boleh diakui, bukan sesuatu yang harus ditahan sendirian. Kalau kamu juga lagi di fase ini, entah sebagai ibu pekerja atau full IRT, menurutku sah banget kalau kamu merasa lelah. Bukan karena kamu lemah, tapi karena memang peran ibu itu besar. Yang penting, jangan lupa cari dukungan: entah dari pasangan, keluarga, atau komunitas ibu lain yang paham rasanya. Kadang, sekadar didengar tanpa dihakimi sudah bisa mengurangi beban yang selama ini kita pikul sendiri.

1 komentar

Gambar Angel's Corner
Angel's Corner

ih setuju bnget kk 🤩