Dalam kehidupan sosial, tidak jarang kita mengalami rasa malas atau jenuh terhadap pertemanan yang dipenuhi dengan drama dan konflik yang tak berujung. Sikap seperti "lagi malas sama pertemanan yang banyak drama" sangatlah wajar dirasakan ketika interaksi sosial mulai terasa melelahkan. Saya pernah mengalami masa-masa di mana teman-teman sekeliling tampak selalu membuat masalah kecil menjadi besar. Saat ada yang bilang saya jahat, saya memilih untuk "iyain aja" tanpa membuang energi untuk berdebat, karena terkadang mengkonfrontasi tidak menyelesaikan masalah dan malah memperburuk suasana. Sikap seperti ini membantu saya menetapkan batasan-batasan jelas dalam pertemanan. Misalnya, tidak selalu harus memenuhi ekspektasi semua orang yang hanya ingin mencari perhatian dengan cara dramatis. Memiliki ketegasan untuk «atur sejahat mungkin» dalam konteks menjaga jarak emosional bukan berarti menjadi negatif, melainkan cara menjaga diri agar tidak mudah terbawa perasaan yang membuat stres. Cara tersebut juga penting untuk kesehatan mental, supaya kita tetap punya ruang untuk berkembang dan mencintai diri sendiri. Fokus pada kualitas daripada kuantitas teman sangat membantu menciptakan lingkungan sosial yang suportif dan sehat. Membangun pertemanan yang sehat adalah proses yang dinamis dan membutuhkan pemahaman terhadap diri sendiri dan orang lain. Jangan ragu untuk mengatakan 'tidak' pada hal-hal yang merugikan dan pilihlah teman yang benar-benar mendukung dan menghargai kita apa adanya. Dengan cara ini, kita bukan hanya menghindari drama, tetapi juga belajar menciptakan keseimbangan dalam hubungan sosial yang positif dan berkelanjutan.
5/5 Diedit ke
