BIKIN MALU, AKU GAK BISA LAKUIN INI..😭

2025/9/11 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSejujurnya yang bikin kepikiran terus itu kalimat di kepala: "100 hari ayah nggak bisa kuadakan, apa bikin malu keluarga?" Rasanya campur aduk antara sedih, bersalah, sama takut omongan orang. Apalagi di lingkungan yang sudah terbiasa selalu ada tahlilan atau haul 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan seterusnya. Tapi setelah aku coba cari tahu, ngobrol sama beberapa teman dan baca-baca, pelan‑pelan aku paham kalau inti dari semua ini sebenarnya bukan di acaranya yang besar atau mewah, tapi di doa kita buat almarhum. Banyak ustaz juga bilang, haul atau tahlilan 100 hari itu adat/kebiasaan di beberapa daerah, bukan kewajiban dalam Islam. Jadi kalau kita nggak mampu, bukan berarti kita anak yang nggak sayang atau bikin malu keluarga. Buat yang kondisinya sama kayak aku, mungkin beberapa hal ini bisa dicoba: 1. **Fokus ke doa pribadi** Nggak harus kumpul orang banyak. Kita bisa kirim Al‑Fatihah, baca Yasin, atau doa singkat setelah salat. Lakuin rutin, bahkan setelah lewat 100 hari pun. Kadang yang sederhana gini justru lebih tenang di hati. 2. **Haul sederhana di rumah** Kalau tetap pengin memperingati 100 hari ayah, bisa banget cuma bareng keluarga inti. Baca doa bareng, cerita kebaikan ayah, lalu tutup dengan doa. Nggak perlu konsumsi berlebihan, cukup ala kadarnya sesuai kemampuan. 3. **Sedekah atas nama almarhum** Nggak harus nominal besar. Bisa sedekah makanan satu atau dua bungkus ke tetangga yang butuh, bagi snack ke anak‑anak, atau transfer kecil ke yang lagi kesusahan. Niatkan pahalanya untuk almarhum ayah. Menurut banyak ulama, sedekah jariyah dan doa anak saleh itu termasuk amal yang terus mengalir. 4. **Komunikasi dengan keluarga besar** Kalau takut dianggap bikin malu, coba pelan‑pelan ngomong jujur ke keluarga besar: kondisi lagi kurang, jadi nggak bisa adain haul seperti biasanya. Kadang kita keburu takut, padahal keluarga juga bisa paham kalau dijelasin baik‑baik. 5. **Jangan ukur bakti dari besarnya acara** Bakti ke orang tua itu sepanjang hidup: doain mereka, jaga nama baik, terus jadi pribadi yang lebih baik. Haul cuma momen. Kalau momennya terlewat karena kita benar‑benar nggak mampu, itu bukan dosa. Malu yang sebenarnya justru kalau kita sanggup tapi lalai mendoakan. Soal "bikin malu", aku jadi belajar bedain antara malu karena omongan orang dan malu di hadapan Allah. Kalau Allah tahu kita udah berusaha semampunya, mungkin nggak perlu terlalu berat mikirin komentar orang. Sedih itu wajar, kangen ayah itu wajar banget, tapi jangan sampai rasa takut malu bikin kita lupa sama sisi rahmat Allah yang luas. Kalau kalian pernah di posisi nggak bisa adain haul 100 hari orang tua, gimana cara kalian menghadapi? Apa yang paling menenangkan hati waktu itu? Aku pengin belajar dari pengalaman kalian juga.

28 komentar

Gambar Jessylays🥔
Jessylays🥔

ga di wajib di islam mah, atau keknya malah islam golongan tertentu doang sebenernya. dianggap/dirasa wajib karena budaya aja.

Lihat lainnya(1)
Gambar Yas Table Recipes
Yas Table Recipes

Sebenarnya dalam Islam tidak ada kewajiban untuk mengadakan acara 100 harian, apalagi kalau sampai memberatkan keluarga. Sedekah seikhlasnya atau sekadar kirim doa di rumah sudah sangat luar biasa kok di mata Allah. Jangan sampai memaksakan diri yaa kak. Bakti kepada orang tua tidak diukur dari besar kecilnya tenda acara, tapi dari istiqomahnya doa sang anak setiap sujud. Peluk jauh buat Kakak 🤗

Lihat komentar lainnya