... Baca selengkapnyaAwalnya aku juga bingung, kok rasanya capek secara emosional, cepat insecure, dan gampang merasa nggak cukup. Sampai akhirnya aku kenal konsep mengisi tangki cinta diri sendiri. Jadi daripada terus menuntut diri, aku mulai pelan‑pelan bikin rutinitas kecil yang bikin hati terasa lebih hangat.
Hal pertama yang paling kerasa adalah mulai peduli sama ruang di sekelilingku. Kamar aku berantakan, padahal di situ aku tidur, kerja, dan sering melamun. Pelan‑pelan aku tata ulang: aku pindah posisi cermin biar bisa lihat diri sendiri lebih jelas, nambah tanaman gantung supaya suasana lebih hidup, dan pasang beberapa poster yang bikin aku semangat. Sentuhan kecil kayak rak gantung dan dekor lucu ternyata bikin aku betah di kamar, dan itu jadi simbol kalau aku layak punya ruang yang nyaman.
Terus, aku mulai mengizinkan diri buat beli barang yang benar‑benar aku pengenin, pakai uang sendiri. Misalnya pernak‑pernik kamar, buku, alat lukis, bahkan skincare yang selama ini cuma masuk wishlist. Tumpukan kardus di pojok kamar itu kayak pengingat: "Aku bekerja, aku berusaha, dan aku boleh menghadiahi diri sendiri." Tapi aku juga belajar buat tetap bijak, bedain mana kebutuhan dan mana pelarian. Belanja seperlunya tapi tetap kasih ruang buat senang.
Me‑time jadi salah satu cara penting mengisi tangki cinta diri. Kadang aku maraton film di iPad sambil nyalain aroma terapi, baca buku di dekat jendela dengan tirai tertutup setengah, atau sekadar nulis jurnal tentang perasaan hari itu. Bagi orang lain mungkin keliatan sepele, tapi buat aku, itu momen buat berhenti dari dunia luar dan denger suara hati sendiri.
Bagian yang paling dalam adalah saat aku duduk dengan mukena dan sajadah, berdzikir dan berdoa. Di situ aku merasa benar‑benar jujur: ngaku kalau aku sering capek, kecewa, tapi juga berterima kasih atas proses yang sudah aku lewati. Dzikir itu kayak cara mengisi tangki cinta dari sumber yang lebih besar daripada diriku sendiri. Rasa syukur bikin aku lebih lembut sama diri sendiri.
Aku juga menemukan sisi kreatifku lagi lewat melukis DIY, salah satunya tema kucing. Di meja, iPad, cat warna, dan lukisan kucing kecil jadi saksi kalau ternyata aku masih bisa menikmati hal simpel. Kreativitas ini semacam terapi; setiap goresan kayak bilang, "Aku hadir di sini, dan itu cukup."
Dari semua kebiasaan ini, aku pelan‑pelan belajar bahwa mengisi tangki cinta diri sendiri bukan soal hal besar dan mahal, tapi soal konsisten memberi perhatian ke diri. Ngerapiin kamar, menikmati film favorit, beli sesuatu dari uang sendiri, merawat kulit, berdzikir—semuanya adalah cara bilang ke diri sendiri: "Aku penting." Kalau kamu lagi merasa kosong, mungkin bisa mulai dari satu langkah kecil hari ini, di ruang yang kamu punya sekarang.