Ada seorang ibu yang cerita, semenjak tahu anaknya ADHD, ternyata anaknya juga punya ciri kebanyakan bicara dan bertanya.
Awalnya mungkin berpikir,
“Bukannya anak yang banyak ngomong itu harusnya senang?”
Tentu bersyukur anak bisa bicara dan punya rasa ingin tahu.
Tapi ternyata ada bedanya bu.
❎ Anak ADHD bisa banyak bicara atau bertanya saat sedang fokus mengerjakan sesuatu, bahkan topiknya sudah keluar dari aktivitas yang dikerjakan.
Akibatnya, aktivitas jadi lebih lama selesai atau malah terbengkalai.
✅ Solusinya: arahkan kembali untuk menyelesaikan aktivitasnya.
Bertanya boleh, selama masih berhubungan dengan aktivitasnya.
Kalau sudah di luar topik, bisa bilang:
“Nanti kita bahas setelah selesai, ya.”
❎ Kondisi lainnya, anak bisa banyak bicara atau bertanya saat orang tua sedang berbicara dengan orang lain, bahkan suka memotong pembicaraan.
✅ Solusinya: beri tahu sebelumnya kalau orang tua akan ngobrol, misalnya sekitar 30 menit.
Sambil menunggu, anak bisa melakukan aktivitas lain supaya tidak bosan.
Dengan begitu, anak juga belajar menunggu giliran secara perlahan.
Bukan berarti anak harus disuruh diam ya bu.
Tapi kita bantu anak belajar kapan waktunya bicara, kapan waktunya menunggu, dan kapan waktunya kembali fokus.
Dan mungkin, inilah yang sering kita lupakan sebagai orang tua.
Anak special needs bukan butuh dikasihani.
Mereka butuh dipahami, didampingi, dan diberi kesempatan untuk berkembang sesuai potensinya.
Hal ini juga yang dialami Kak Diana, yang sudah 13 tahun mendampingi dan membesarkan anak dengan ADHD dan disleksia.
Dulu anaknya mengalami speech delay.
Tapi dengan pendampingan, proses, dan perjuangan yang panjang, sekarang justru sudah hafal 30 juz Al-Qur’an.
Bukan berarti perjalanan setiap anak akan sama.
Tapi kisah ini mengingatkan kita bahwa diagnosis bukan akhir dari perjalanan anak.
Kadang yang mereka butuhkan bukan rasa kasihan.
Tapi orang tua yang mau terus belajar:


































