... Baca selengkapnyaDulu tiap kali ada masalah, kalimat yang paling sering keluar dari mulutku itu, “Beratnya ujian-Mu ya Allah…” Rasanya capek, sedih, dan jujur saja sering iri lihat hidup orang lain yang kelihatan lebih mudah. Tapi di satu titik aku mulai belajar melihat ujian bukan sebagai hukuman, tapi sebagai bentuk Allah sedang memposisikan aku di level yang berbeda.
Kalimat “belajarlah mencintai ujianmu karena yang mengujimu sedang mencintaimu” awalnya cuma terdengar manis di telinga. Tapi ketika aku renungkan, logikanya sederhana: kalau Allah mau membiarkanku jauh, Dia bisa saja kasih aku hidup super nyaman sampai lupa berdoa. Tapi ketika hidup terasa berat, justru di situlah aku paling sering sujud, nangis, dan curhat panjang sama Allah. Artinya, ujian itu cara lembut Allah menarikku kembali.
Ada satu momen yang nggak pernah aku lupa. Di fase itu aku benar-benar bilang, “Ujian-Mu begitu berat ya Allah, aku nggak sanggup.” Tapi justru di fase terendah itu aku belajar tiga hal penting:
1. Ujian itu mengungkap siapa saja yang benar-benar sayang. Teman yang dulu ramai, menyusut, tapi yang tersisa justru yang paling tulus.
2. Ujian bikin aku belajar bersyukur atas hal-hal kecil: napas yang lancar, badan yang sehat, keluarga yang masih lengkap.
3. Ujian memaksa aku upgrade diri: belajar ilmu baru, perbaiki ibadah, dan mencoba lebih tenang menerima takdir.
Aku juga pelan-pelan belajar cara mencintai seseorang karena Allah. Dulu, kalau sayang sama orang, patokannya cuma: dia baik sama aku atau nggak. Sekarang aku tanya dulu ke diri sendiri: “Dekat sama dia bikin aku lebih dekat ke Allah atau malah jauh?” Mencintai karena Allah itu artinya berani melepaskan jika dia membawa kita pada hal yang Allah nggak ridai, dan sebaliknya, mendukung dia jadi hamba yang lebih baik. Berat, tapi justru di situ letak indahnya.
Sekarang, setiap kali ada masalah, aku coba ganti doa. Dari yang tadinya, “Ya Allah, kenapa aku diuji seperti ini?” jadi “Terima kasih atas ujian-Mu ya Allah, ajari aku memahami maksud baik-Mu di balik semua ini.” Bukan berarti aku sudah super ikhlas, masih sering nangis dan khilaf mengeluh, tapi setidaknya aku tahu arah yang ingin kutuju: menerima bahwa Allah mencintai dengan dua cara, lewat kemudahan dan lewat ujian yang membuatku tumbuh.
Kalau kamu lagi di fase berat, nggak apa-apa kok kalau merasa lelah. Tapi jangan hentikan doa. Boleh banget curhat panjang di sepertiga malam, atau sekadar bisik pelan, “Ya Allah, tolong kuatkan.” Percaya, satu hari nanti kamu akan melihat ke belakang dan berkata, “Ternyata tanpa ujian itu, aku nggak akan jadi diriku yang sekarang.”