DOMPET AYAH SEPATU IBU by JS. KHAIREN

Ini kisah tentang ayah dan ibu, yang tangisnya mampu menyalakan api, yang tangisnya mampu memadamkan api.

Api paling panas menyala saat ayah dan ibu menangis kecewa. Api paling panas padam oleh tangis perjuangan ayah dan ibu. Maka, ingatlah selalu rumah.

#novel #novelindonesia

2025/8/23 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPertama kali lihat judul "DOMPET AYAH SEPATU IBU" karya JS Khairen, aku langsung penasaran sama maknanya. Setelah baca, baru kerasa kalau dompet ayah dan sepatu ibu itu bukan cuma benda, tapi simbol perjuangan yang selama ini sering kita anggap biasa. Buat yang belum baca, aku coba jelasin tanpa spoiler berat. Di novel ini, kita diajak ngeliat ulang sosok ayah dan ibu dari hal-hal kecil yang kelihatan sepele. Dompet ayah yang lusuh, misalnya, diam-diam nyimpen banyak cerita: lembur, capek di jalan, kadang harus ngorbanin keinginan sendiri demi bisa masukin uang ke dompet itu, lalu ujung-ujungnya buat kebutuhan anak dan keluarga. Dari luar mungkin cuma kelihatan sebagai dompet biasa, tapi di baliknya ada rasa cemas, takut, tapi juga tekad buat terus berjuang. Sepatu ibu juga nggak kalah simbolis. Sepatu yang dipakai ke pasar, ke sekolah anak, ke tempat kerja, bahkan ke acara keluarga. Mungkin sudah mulai rusak, sol-nya menipis, tapi tetap dipakai karena buat ibu, yang penting anak-anaknya dulu yang punya sepatu bagus. Waktu baca bagian yang menggambarkan perjuangan ibu, aku jadi keinget gimana ibu di rumah juga sering banget milih irit buat dirinya sendiri, tapi royal kalau buat anak. Novel DOMPET AYAH SEPATU IBU ini menurutku kuat banget di emosi. Bukan tipe yang dramatis lebay, tapi pelan-pelan nusuk lewat adegan-adegan sederhana. Tangis ayah dan ibu di sini bukan sekadar sedih, tapi juga lega, kecewa, bangga, dan semuanya campur jadi satu. Ada momen di mana tangis mereka kayak jadi api yang nyalain semangat, tapi di saat lain justru jadi air yang matiin ego dan amarah. Kalau kamu lagi nyari bacaan yang bikin lebih sadar diri sebagai anak, novel ini cocok banget. Setelah selesai, aku jadi kepikiran hal-hal kecil: kapan terakhir kali nanya kabar ayah ibu dengan sungguh-sungguh, kapan terakhir kali ngucapin terima kasih atas semua yang mereka lakuin. Rasanya pengin peluk mereka dan bilang, "Maaf kalau selama ini cuma lihat dompet dan sepatu kalian sebagai benda, bukan sebagai saksi perjuangan." Buat yang lagi mempertimbangkan mau baca atau nggak, menurutku DOMPET AYAH SEPATU IBU layak banget masuk daftar bacaan. Ceritanya ringan tapi bermakna, bahasanya mengalir, dan pesan tentang keluarga, rumah, dan pengorbanan orang tua kerasa banget. Siapin tisu aja kalau kamu tipe yang gampang kebawa suasana, karena beberapa bagian bener-bener kena di hati, apalagi kalau hubungannya sama ayah dan ibu kamu mirip dengan yang digambarkan di novel ini.