ZINA ITU HUTANG

"Zina itu utang. Jika engkau meminjamkannya, keluargamulah yang akan membayarnya?"

Guru: Nak... pernahkah kau melihat seorang ayah menangis diam-diam karena anaknya?

Murid: Pernah, Guru.

Guru: Pernahkah kau melihat seorang suami yang tak bisa tidur karena kehormatan keluarganya terluka?

Murid: Pernah...

Guru: Maka dengarkan baik-baik... Bukan karena Allah zalim. Bukan pula karena dosa diwariskan. Tetapi karena setiap luka yang kau tanam di hati orang lain... sering kali Allah izinkan kau merasakan rasanya.

Murid: Maksudnya?

Guru: Saat seorang lelaki merusak kehormatan anak perempuan orang lain... ia jarang memikirkan seorang ayah yang sedang hancur. Ia hanya memikirkan nafsunya. Namun roda kehidupan berputar.. Suatu hari... ia berdiri di posisi ayah itu. Dan baru saat itulah dadanya terasa sesak. Baru saat itulah ia mengerti arti kehormatan.

Murid: Jadi itu makna "utang" yang dimaksud?

Guru: Ya... Bukan utang uang... Tetapi utang rasa. Utang air mata. Utang kehormatan. Utang yang kadang dibayar dengan penyesalan yang datang terlambat.

Murid: Guru... mengapa manusia sering baru sadar setelah terluka?

Guru: Karena hati yang dikuasai syahwat tidak mampu melihat akibat.. Ia hanya melihat kenikmatan sesaat. Sedangkan hati yang hidup... melihat akhir dari setiap langkah.

Murid: Lalu bagaimana agar hati tetap hidup?

Guru: Jangan hanya menjaga tubuhmu dari maksiat. Jagalah hatimu dari merasa aman terhadap maksiat,,, Karena banyak orang menang melawan dunia... namun kalah oleh dirinya sendiri.

Guru: Nak... Jika engkau mencintai anakmu yang belum lahir... jagalah dirimu hari ini. Jika engkau mencintai keluargamu... jagalah kehormatan keluarga orang lain. Karena siapa yang menjaga kehormatan manusia... Allah akan menjaga kehormatannya.

"Dosa terbesar bukan ketika seseorang jatuh dalam nafsu. Dosa terbesar adalah ketika ia mengira perbuatannya akan berhenti pada dirinya. Padahal setiap perbuatan adalah benih... dan suatu hari, benih itu akan pulang kepada penanamnya."

#islamreminder #Religious #Lemon8

6/18 Diedit kepada

... Baca lagiDalam kehidupan sehari-hari, saya pernah menyaksikan bagaimana perbuatan yang tampak kecil dan tidak berbahaya sebenarnya membawa dampak besar bagi kehidupan seseorang dan keluarganya. Konsep "zina itu hutang" mengajarkan bahwa perbuatan dosa bukan hanya beban bagi pelaku, tetapi juga dampaknya akan kembali kepada keluarganya yang tercinta. Saya teringat sebuah pengalaman ketika seorang teman dekat mengalami kesulitan dalam keluarganya karena satu kesalahan yang dibuat dari sisi nafsu. Awalnya, dia merasa tidak ada yang tahu dan dampak tidak akan besar, namun lama-kelamaan luka yang ditimbulkan merembet ke banyak pihak, termasuk ayah dan ibu yang menanggung beban hati dan kehormatan keluarga. Dari sini saya belajar betapa pentingnya menjaga hati, bukan hanya tubuh, dari godaan maksiat. Nasihat Imam Syafiee yang telah diabadikan dalam kalimat "Zina Itu Hutang" memang sangat tepat. Hutang yang dimaksud bukan hutang materi, tapi hutang rasa, air mata, dan kehormatan yang sulit untuk dilunasi hanya dengan penyesalan. Oleh karena itu, menjaga kehormatan keluarga sendiri sekaligus keluarga orang lain adalah bentuk tanggungjawab sosial dan agama yang perlu kita tanamkan sejak dini. Selain itu, menjaga hati agar tetap hidup bukan hanya soal menghindari maksiat secara lahiriah, tapi lebih kepada kesadaran batin untuk selalu waspada dan memahami akibat dari setiap tindakan. Ketika suatu pelajaran diterima dengan hati, maka kesadaran itu menjadi kekuatan yang akan membimbing kita menjalani hidup dengan penuh tanggungjawab. Saya juga percaya, seperti yang disebutkan dalam artikel, bahwa Allah akan menjaga kehormatan mereka yang menjaga kehormatan orang lain. Ini memberikan harapan dan motivasi untuk selalu berusaha menjaga diri dari segala bentuk dosa agar keselamatan dan kehormatan senantiasa menyertai kita dan keluarga. Mengutip kalimat terakhir yang sangat menyentuh, "Dosa terbesar adalah ketika ia mengira perbuatannya akan berhenti pada dirinya," menjadi pengingat bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi pada masa depan. Oleh itu, saya mengajak semua untuk lebih bijak menggunakan hati dan akal, menjaga keutuhan keluarga dan kehormatan sebagai warisan yang harus dijaga bersama.