Nulis Buku Bareng Yuk🥰

Alhamdulillah, telah dibuka pendaftaran event Menulis Bareng Batch 4 dengan:

Judul: Kehilangan yang Menempa

Tema: Belajar untuk menjadi lebih kuat setelah kehilangan

Deadline pendaftaran: 16 September 2025

📌 Hanya untuk perempuan—FREE✨️

__________________

Sinopsis buku:

Setiap kita pasti pernah merasakan kehilangan. Entah kehilangan orang yang dicinta, kehilangan pekerjaan, kehilangan mimpi, kehilangan kesempatan, atau bahkan kehilangan bagian dari dirinya sendiri. Kehilangan sering kali meninggalkan luka dan penyesalan.

Namun, kehilangan bukanlah akhir dari perjalanan. Ia hadir sebagai pengingat, bahwa dunia tempatnya kehilangan, mengajarkan kita untuk melepaskan, menerima dan menemukan kembali arti keberadaan diri.

Kehilangan bukan untuk menghancurkan kita, tapi untuk menempa kita menjadi lebih kuat dan menyadarkan bahwa kita adalah hamba-Nya.

________________

Syarat pendaftaran:

1. Follow instagram @kelasnyaulia dan @fiisyahpublishing

2. Repost postingan ini dengan tag instagram @kelasnyaulia dan @fiisyahpublishing

3. Daftar dengan cara klik link di bio instagram @kelasnyaulia

4. Komitmen menyelesaikan naskah dan membeli buku minimal 1 eks💫

Jangan lewatkan kesempatan untuk menuntaskan tulisan bersama dan menjadi bagian dari karya yang akan dibukukan📚

2025/9/10 Diedit ke

... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali baca judul "Kehilangan yang Menempa", aku langsung kepikiran satu hal: ternyata yang paling berat itu bukan cuma kehilangan orang lain, tapi juga kehilangan diri sendiri. Rasanya kayak hidup jalan terus, tapi kita nggak lagi kenal siapa diri kita, apa yang kita mau, bahkan apa yang bikin kita bahagia. Di titik itulah aku mulai cari arti kehilangan diri sendiri dan nemu jawabannya pelan-pelan lewat menulis. Buatku, arti kehilangan diri sendiri itu ketika kita merasa hampa, jalanin hari cuma sekadar kewajiban, dan nggak lagi punya koneksi sama hati kita sendiri. Kadang itu terjadi setelah kehilangan besar: ditinggal orang yang disayang, gagal meraih mimpi, atau hidup nggak sesuai rencana. Kita sibuk bertahan, sampai lupa ngobrol sama diri sendiri. Di fase ini, aku sering merasa kayak jadi orang asing di hidupku sendiri. Di sinilah aku mulai belajar menulis sebagai cara untuk memahami diriku lagi. Waktu menuangkan cerita tentang kehilangan, aku jadi lebih jujur. Ternyata banyak hal yang selama ini cuma kupendam. Menulis kisah motivasi islami dan kisah inspiratif, seperti yang diminta di event Menulis Bareng ini (maksimal 1.000 kata, tanpa SARA dan plagiat, format .doc), justru bikin aku pelan-pelan berdamai dengan masa lalu. Soal sinopsis, dulu aku pikir sinopsis itu sekadar ringkasan. Tapi setelah ikut beberapa kelas dan baca contoh sinopsis buku "Kehilangan yang Menempa", aku baru paham: sinopsis itu inti jiwa dari tulisan kita. Bukan cuma merangkum, tapi menjelaskan garis besar konflik, rasa, dan pelajaran yang ingin kita bagi ke pembaca. Bahasa sederhananya, sinopsis itu jawaban dari pertanyaan: "Buku/cerita ini ngomongin apa dan kenapa penting buat dibaca?" Saat aku mencoba menulis sinopsis versiku sendiri, aku biasanya mulai dari: - Apa bentuk kehilangan yang kualami (orang tua, sahabat, pekerjaan, atau mimpi). - Perasaan terdalam di masa itu (marah, kecewa, kosong, merasa nggak berguna). - Proses pelan-pelan bangkit (belajar menerima, lebih dekat sama Allah, support system). - Pelajaran yang ingin kuberi ke pembaca. Dari situ, aku rangkai 1–2 paragraf singkat yang tetap jujur dan menyentuh, bukan sekadar formal. Itu yang bikin sinopsis kerasa hidup, bukan cuma informasi. Kalau kamu lagi cari arti kehilangan diri sendiri, mungkin ikut event seperti "Menulis Bareng Kelasnya Aulia" ini bisa jadi langkah awal. Selain dapat benefit seperti royalti, apresiasi penulis terbaik (piala, sertifikat, uang), ebook kepenulisan, dan buku ber-QRCBN, yang paling berharga justru kesempatan untuk "menempa" diri lewat tulisan. Menulis membuat kita berani melihat luka, tapi juga berani percaya bahwa kita bisa bangkit. Aku pribadi merasakan, semakin jujur menulis tentang kehilangan, semakin aku mengenali lagi siapa diriku. Dari situ, arti kehilangan berubah: bukan lagi musibah tanpa makna, tapi proses ditempa supaya lebih kuat dan lebih dekat dengan-Nya. Kalau kamu sedang di fase merasa kehilangan diri sendiri, coba mulai dari satu halaman tulisan. Nggak perlu sempurna, yang penting jujur. Pelan-pelan, kamu akan menemukan dirimu lagi di antara kata-kata yang kamu tulis.