... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali membaca ayat "Akulah kebangkitan dan hidup" di Yohanes 11:25, aku cuma tahu artinya secara teori. Tapi makin ke sini, ayat ini jadi seperti pegangan setiap kali berhadapan dengan kehilangan, kegagalan, atau hal-hal yang rasanya "mati" dalam hidup.
Di gambar, ada Alkitab yang terbuka di Injil Yohanes dengan kutipan Yohanes 11:25: Yesus berkata bahwa Ia adalah kebangkitan dan hidup. Buatku, ayat ini bukan cuma berbicara soal kebangkitan di akhir zaman, tapi juga tentang bagaimana Yesus sanggup membangkitkan harapan yang sudah padam sekarang. Kadang kita merasa doa tidak dijawab, rencana berantakan, hubungan rusak, atau masa depan gelap. Di titik-titik itu, aku belajar mengulang pelan-pelan dalam hati: "Yesus, Engkau akulah kebangkitan dan hidup. Tolong hidupkan lagi bagian-bagian hidupku yang mati."
Menariknya, di Yohanes 11, Yesus mengucapkan kalimat ini di tengah suasana berduka karena Lazarus meninggal. Jadi konteksnya sangat real: air mata, rasa kehilangan, dan pertanyaan "Tuhan, kalau Engkau ada di sini…". Buatku ini menghibur, karena berarti Yesus tidak alergi dengan kesedihan dan pertanyaan kita. Ia hadir di tengah-tengah duka itu, lalu menyatakan diri sebagai kebangkitan dan hidup.
Ayat ini juga menantang cara pandangku tentang hidup. Kalau Yesus adalah hidup, berarti pusat hidupku bukan lagi keberhasilan, pujian orang, atau pencapaian pribadi. Yang penting adalah berjalan bersama Dia hari demi hari. Bahkan di hari biasa yang terasa membosankan, aku diingatkan: "Hari ini pun adalah kesempatan mengalami Dia sebagai hidup." Misalnya, waktu lelah dengan rutinitas, aku mencoba berhenti sebentar, buka Alkitab di Injil Yohanes, baca ulang Yohanes 11:25, dan merenung: bagian mana dari hidupku yang perlu "dibangkitkan"? Semangat pelayanan? Kerinduan berdoa? Kasih pada orang lain?
Menuliskan tanggal seperti "Rabu, 22 Oktober 2025" di samping ayat ini juga bisa jadi ide bagus. Seperti jurnal rohani kecil, menandai hari ketika kita disadarkan kembali bahwa Yesus adalah kebangkitan dan hidup. Suatu saat ketika kita melihat kembali tanggal itu, kita bisa teringat: "Oh, pada hari itu Tuhan menguatkanku lewat ayat ini."
Kalau kamu lagi dalam masa sulit, mungkin langkah praktisnya bisa sederhana saja: luangkan waktu tenang, baca Yohanes 11:25 pelan-pelan, renungkan kata-katanya, lalu jujur pada Tuhan tentang apa yang kamu rasakan. Tidak perlu kata-kata rohani yang rumit. Ceritakan saja seperti ke sahabat: apa yang terasa mati, apa yang kamu takutkan, dan di bagian mana kamu rindu mengalami Yesus sebagai kebangkitan dan hidup. Dari pengalamanku, Dia tidak selalu mengubah keadaan seketika, tapi sering kali mengubah hati dulu—memberi damai dan kekuatan untuk melangkah satu hari lagi bersama-Nya.