... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali bikin tempe homemade dari kedelai mentah yang difermentasi, aku juga sempat panik lihat miselium putih pada tempe. Ternyata, miselium putih tempe itu justru tanda kalau fermentasinya berjalan bagus. Teksturnya padat, kedelai saling menyatu, dan aromanya khas kacang fermentasi, bukan bau asam menyengat.
Buat yang bingung bedain tempe belum jadi dan tempe sudah matang fermentasinya: tempe belum jadi biasanya masih ada bagian kedelai yang terpisah, miseliumnya belum menutupi seluruh permukaan, dan warnanya kadang masih belang. Kalau ditempel, masih agak rapuh. Sedangkan tempe matang fermentasi (siap masak) miselium putihnya rata, padat, dan bisa diiris rapi.
Kalau aku bandingkan dengan tempe supermarket di Kroasia, yang kemasannya bertuliskan "Tempeh" dan logo vegan, bedanya kerasa di tekstur dan rasa. Tempe supermarket cenderung lebih lembab, kadang sudah dipasteurisasi, jadi fermentasinya seperti terhenti. Teksturnya lebih halus, miseliumnya tipis, dan rasa kacang kedelainya tidak sekuat tempe homemade yang benar‑benar fresh.
Soal tempe mentah kedelai fermentasi, banyak yang tanya, boleh nggak sih dimakan langsung? Dari pengalamanku, lebih aman tempe dimasak dulu: digoreng, ditumis, atau direbus. Selain rasanya lebih enak, risiko kontaminasi juga berkurang. Tempe belum matang (fermentasinya belum sempurna) sebaiknya jangan dikonsumsi, tunggu sampai miselium putih merata dan teksturnya padat.
Aku juga sempat hitung‑hitungan soal kalori dan protein. Misalnya, 100 gram tempe itu biasanya sekitar 10–12 irisan tipis (tergantung ketebalan). Untuk tempe goreng tepung, kalori jelas naik karena minyak dan tepung, makanya kalau lagi diet aku lebih sering bikin tempe rebus atau tempe kukus. Tempe rebus 1 potong (kira‑kira 25–30 gram) kalorinya lebih rendah dibanding digoreng. Satu papan tempe ukuran standar (misalnya 200–250 gram) sudah cukup banget buat memenuhi kebutuhan protein satu orang dalam sehari, apalagi kalau lagi nggak banyak makan sumber protein lain.
Dari sisi rasa, tempe homemade menurutku mirip tempe Malang yang sering aku coba di Indonesia: aromanya gurih kacang, teksturnya kenyal tapi padat. Sementara tempe supermarket di luar negeri kadang lebih mirip produk olahan vegan yang sudah dimarinasi, bukan tempe polos. Buat yang penasaran macam tempe, ada tempe kedelai biasa, tempe gembus (dari ampas tahu), dan tempe campuran biji‑bijian. Perbedaan tempe gembus dan tempe biasa paling kerasa di tekstur dan kandungan gizi: gembus lebih ringan dan rendah kalori, sementara tempe kedelai biasa lebih tinggi protein.
Sedikit tips dari pengalamanku mencampur ragi tempe dengan kedelai: pastikan kedelai sudah direbus matang, ditiriskan, dan benar‑benar dingin serta kering permukaannya (tidak ada air menggenang). Baru taburkan ragi tempe secara merata sambil diaduk pelan. Kalau terlalu basah, miselium susah tumbuh dan bisa muncul jamur lain. Setelah dibungkus, simpan di tempat hangat dengan sirkulasi udara cukup, misalnya di atas rak kawat hitam di dapur. Biasanya dalam 24–48 jam, miselium putih sudah mulai menutupi kedelai.
Sekarang, kalau lagi di Kroasia dan ingin makan tempe, aku biasanya pakai dua opsi: kalau sempat, bikin tempe homemade dari kedelai mentah karena rasanya menurutku paling mantap. Kalau lagi buru‑buru, aku beli tempe supermarket, tapi biasanya aku olah lagi: dimarinasi, dikukus sebentar, lalu digoreng ringan supaya teksturnya lebih mirip tempe Indonesia. Dengan paham ciri tempe belum jadi, tempe matang, dan miselium putih yang sehat, kita jadi lebih pede pilih dan mengolah tempe, baik homemade maupun dari supermarket.