PENYESALAN
YUK LUASKAN REZEKIMU DENGAN RASA BERHARGA
Uang itu gemar sekali datang kepada sesuatu yang berharga. Emas karena berharga, ya, didatangi uang gede.
Anda punya prestasi ranking kelas di sekolah, di situ perasaan Anda berharga dan hebat, seketika perasaan itu mendatangkan hadiah, karena prestasi kelas yang diraih memicu rasa berharga di perasaan.
Orang-orang mulia dan terhormat, sekalipun mereka bukan pebisnis, ya, rezekinya deras, kan? Misal ulama, tokoh masyarakat, selebritas, rektor perguruan tinggi, ilmuwan, budayawan, dan lainnya, ya, rezeki mereka oke. Kaya raya si terukur sesuai status kemuliaanya, namun untuk cukup sehingga terhormat, mereka cukup. Rasa dihormati dan dimuliakan orang, itu yang menarik rezeki uang untuk mereka.
Seseorang ketika sedekah, dalam perasaannya akan muncul rasa gagah, artinya muncul rasa berharga. Itu yang jadi pemicu uangnya datang.
Coba Anda yang masih suka hitung-hitung uang, atau malah pelit, sekali waktu Anda eksperimenkan, bagikan uang kepada banyak orang, hormon rasa berharga Anda akan terpicu.
Banyak, kan, crazy rich ataupun selebritas, kerjaan mereka bikin konten bagi-bagi uang, ya, mereka makin kaya saja, kan? Ya, kurang lebih begitu, hormon rasa berharga mereka terpicu terus-menerus. Berbagi uang saja sudah memicu rasa berharga, apalagi dikontenkan.
Ikhlas tidak, sih, berbagi dengan demikian?
Sudah, jangan pikir ikhlas dulu, karena Tuhan tidak butuh ikhlas Anda, yang penting Anda punya duit dulu, rezeki Anda tidak bermasalah dulu.
Nanti kalau sudah punya duit, ikhlasnya juga ketemu sendiri. Lah, iya, kan? Lebih baik temukan ikhlas dalam keadaan punya uang, daripada temukan ikhlas dalam keadaan seret uang?
Seseorang yang tidak ada keberanian memberi tidak pernah punya perasaan gagah dan berharga, justru perasaannya terbatas, bahkan muncul dominasi rasa kecil hati dan rasa lemah sebagai orang tidak punya.
Ketika rasa negatif mendominasi, di situlah uang enggan datang, sebab tidak temukan rasa berharga.
Seorang suami kepada anak dan istrinya saja pelit karena terpicu rasa terbatas rezeki atau rasa "eman-eman", kalau perasaan terbatas dan eman-eman itu diikuti dengan attitude pelitnya, ya, sudah pamitan sekalian rezekinya, sebab tidak temukan rasa berharga sebagai bos keluarga.
Ini pula penyebab orang miskin makin tercekik rezekinya, karena mereka selalu mengikuti rasa tidak punya dan rasa lemahnya kepada uang. Ada hari raya Iduladha tidak pernah punya nyali—bahkan terbersit pun tidak—untuk berkurban, yang terbersit hanyalah rasa orang tak punya. Rasa yang muncul dominasi rasa kecil hati kepada uang.
Padahal orang kaya di hari Iduladha sedang gede-gedean sapi kurban, mereka sedang berlomba untuk menjadi diri yang paling berharga. Dan hasil akhirnya yang kaya pun makin kaya, yang miskin makin belangsakan miskin.
Nah, Anda yang finansialnya lemah, latihlah menemukan rasa berharga dengan menggunakan fasilitas uang. Caranya, mulailah dari pemberian kecil yang istiqamah agar temukan rasa berharga. Misal sedekah subuh rutin tiap hari dengan sediakan uang 2 ribu perak, lalu cari anak berangkat sekolah, lantas berikan. Tiap hari lakukan itu.
Namun, pastikan saat Anda berbagi receh 2 ribu tersebut, Anda menemukan rasa berharga, sekalipun baru rasa berharga di depan anak-anak kecil. Bisa istiqamah terus-menerus nanti juga uang Anda membaik.
Setelah rezeki membaik, latihan temukan rasa berharga ke level lebih tinggi lagi, pakai uang 10 ribuan misalkan. Biar tidak di level anak-anak terus.
Nah, poinnya adalah rasa berharga, kepuasan rasa berharga, bukan di pemberiannya.
Sebab itu, kadang ada orang pelit, ngitung banget ke duit, lah, kok dia kaya? Kurang lebih karena dengan pelitnya itu dia menemukan rasa berharga.
Atau kadang ada orang dermawan, tapi rezekinya makin belangsakan, kurang lebih dia berbagi tapi hanya temukan rasa kasihan kepada orang lain, rasa ingin bantu orang lain, sementara rasa berharganya tidak pernah dia temukan.
Pengalaman saya pribadi menguatkan bahwa rasa berharga memang menjadi faktor penting dalam menarik rezeki. Dulu saya sering merasa takut dan terbatas dalam hal finansial, bahkan sering menghitung-hitung setiap pengeluaran hingga jadi pelit. Namun, setelah saya mulai membiasakan diri untuk memberi dalam jumlah kecil secara rutin, misalnya sedekah setiap pagi walau hanya dengan nominal kecil, saya merasakan perubahan besar. Perasaan saya berubah, dari semula cemas dan takut menjadi lebih percaya diri dan bangga karena bisa berbagi. Selain itu, saya juga belajar bahwa bukan jumlah yang kita berikan yang paling penting, melainkan rasa yang muncul saat memberi itu sendiri. Ketika kita merasa berharga dan yakin rezeki akan datang, maka energi positif itu akan menarik kemudahan dan keberkahan finansial. Contohnya, saat saya mulai rutin membantu anak tetangga berangkat sekolah dengan uang jajan kecil, saya mendapatkan kepuasan tersendiri yang memicu semangat dan rasa syukur. Saat menerapkan pola ini, saya juga menyadari pentingnya memperlakukan uang sebagai alat untuk mengekspresikan nilai diri dan kepedulian, bukan hanya angka di rekening. Orang yang berhasil dalam keuangan bukan selalu yang paling dermawan secara materi, tapi yang mampu mengelola rasa berharga dalam dirinya saat memberi dan menerima. Dalam hidup, seringkali orang kaya pamer harta, tapi tanpa rasa berharga sejati, rezeki mereka bisa habis. Saya juga belajar dari kisah orang-orang di sekitar yang mampu memperbesar rezeki mereka dengan konten berbagi uang di media sosial, seperti para selebritas dan pengusaha sukses. Mereka memicu hormon rasa berharga melalui aksi berbagi secara konsisten dan dilihat orang lain, sehingga energi positif itu terus mengalir ke hidup mereka. Sebaliknya, ketakutan dan rasa kecil hati pada uang justru mempersempit pintu rezeki. Saya pernah melihat betapa keluarga yang pelit dan takut berinvestasi dalam hal kebaikan biasanya kesulitan secara finansial dan emosional, karena hilang rasa percaya diri sebagai 'bos' keluarga. Intinya, membiasakan diri untuk menemukan dan menguatkan rasa berharga dalam berbagi dapat menjadi jalan praktis untuk membuka pintu rezeki. Mulailah dari hal kecil dan rutin agar rasa itu semakin kuat. Ikhlas memang ideal, tapi lebih penting dulu memiliki rasa berharga dan rezeki yang cukup agar ikhlas datang dengan sendirinya. Cara ini saya yakini mampu membantu siapa saja mengatasi masa sulit finansial dan meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh. Kalimat bijak yang juga menginspirasi saya adalah, "_Biarkan dia berbuat sesukanya, manusia akan menyesal pada waktunya._" Kata-kata ini menjadi pengingat bahwa setiap tindakan, termasuk sikap kita terhadap uang dan memberi, akan berimbas pada masa depan rezeki dan kepuasan batin yang kita alami.






















