... Baca selengkapnyaDalam era media sosial yang serba terbuka, saya pernah merasakan betapa pentingnya menjaga beberapa momen dalam hidup tetap pribadi dan tidak ikut tersebar ke ranah publik. Bagi saya, tidak memposting sebuah momen bukanlah karena takut atau ragu, melainkan sebuah bentuk penghormatan terhadap keaslian dan kealamian suatu kejadian yang ingin saya nikmati secara penuh tanpa gangguan dari kebutuhan untuk mengabadikan atau mendapatkan pengakuan orang lain.
Seringkali, kita merasa terdorong untuk membagikan setiap detil kehidupan kita demi mendapatkan like, komentar, atau perhatian. Namun, pengalaman saya menunjukkan bahwa beberapa saat terbaik justru yang saya simpan untuk diri sendiri. Misalnya, momen kebersamaan yang penuh kehangatan bersama keluarga atau sahabat, atau saat-saat refleksi pribadi yang mendalam. Momen-momen tersebut kadang-kadang lebih bermakna ketika tidak dibagikan secara luas dan memberikan kesempatan untuk menikmati realitas secara langsung.
Selain itu, menyimpan sebagian momen membantu saya menjaga kesehatan mental dari tekanan media sosial. Tidak semua kisah harus viral atau menjadi konsumsi publik. Dengan demikian, saya merasakan kontrol lebih pada narasi hidup saya dan bagaimana saya ingin dikenang.
Bagi pembaca yang juga merasa perlu menjaga privasi dan keaslian momen tertentu, pilihan untuk tidak memposting adalah wajar dan sehat. Ini tentang menghargai diri sendiri dan momen tersebut. Kadang, keindahan sebuah kisah justru terjaga saat hanya kita yang mengetahuinya.