... Baca selengkapnyaSemakin dewasa, aku makin kerasa kalau hidup di dunia itu beneran cuma sementara. Dulu aku cuma sering baca kalimat "dunia itu hanya 3 hari" lalu lewat aja. Tapi sekarang, aku mulai mikir: kalau hidup hanya sebentar, kemarin, hari ini dan besok, sebenarnya apa sih yang mau aku kejar?
Kemarin itu sudah lewat. Di "hari kemarin" isinya adalah cerita, luka, kegagalan, tapi juga pelajaran berharga. Aku pernah terjebak di masa lalu, nyalahin diri sendiri terus, ngebandingin hidup dengan orang lain. Sampai akhirnya aku sadar, kalau terus megang erat kemarin, aku bakal kehilangan hari ini. Di titik itu aku mulai belajar menghargai diri sendiri: memaafkan diri atas kesalahan, menerima kekurangan, dan pelan-pelan berdamai dengan hal yang nggak bisa aku ubah.
Hari ini adalah satu-satunya waktu yang benar-benar kita punya. Kalau dunia hanya 3 hari, maka hari inilah yang paling penting. Aku mulai nanya ke diri sendiri: "Kalau besok aku pulang dan dunia ini sudah nggak kenal aku lagi, apa yang mau aku tinggalkan dari hari ini?" Jawabannya bukan soal pencapaian besar, tapi hal-hal sederhana: bersikap baik ke orang rumah, nggak meledak karena hal sepele, berterima kasih atas hal kecil, dan berhenti biarkan waktuku dicuri amarah dan keluh kesah.
Besok adalah harapan, tapi juga misteri. Kita nggak pernah tahu besok masih ada atau nggak. Dari situ aku belajar kalau hidup bukan sekedar hidup; hidup hanyalah perjalanan pulang. Kita cuma singgah. Apa pun yang sekarang lagi digenggam erat—jabatan, harta, pengakuan—semuanya suatu hari akan lepas. Yang menemani ketika kita pulang bukan apa yang kita punya, tapi apa yang kita lakukan: cinta, syukur, dan kebaikan.
Tentang "3 hari tanpa masalah" aku dulu sempat mikir artinya hidup yang tenang itu harus bebas masalah. Ternyata, buatku artinya berubah: bukan hidup tanpa masalah, tapi hati yang nggak gampang goyah setiap kali ada masalah. Saat kita bisa menghargai diri sendiri, batasin energi dari hal-hal yang toksik, dan memilih respon yang lebih tenang, tiga hari dalam hidup—kemarin, hari ini, besok—kerasa lebih ringan, walau masalah tetap ada.
Kalau dunia itu hanya tiga hari dan hidup ini cuma sementara, sekarang aku belajar untuk nggak menunda hal penting: bilang sayang ke orang-orang tersayang, minta maaf kalau salah, memperbaiki hubungan, dan bikin diri sendiri bangga lewat langkah-langkah kecil. Karena pada akhirnya, pulang itu pasti, dan dunia hanya tempat singgah. Yang bisa kita lakukan adalah menjadikan setiap hari sebagai bekal yang layak untuk perjalanan pulang kita.
kadang waktuku diisi dengan amarah Kaka, kalau capek tapi gak dimengerti aduuhh..🥰🥰🥰