Berusaha menjadi lebih baik ✨
Aku pernah ada di fase yang rasanya capek banget sama sikap orang lain. Bawaannya pengen marah terus, sampai lupa kalau sebenarnya yang paling lelah itu jiwa sendiri. Dari situ aku mulai mikir ulang tentang kalimat "raga hidup jiwa mati". Secara fisik kita memang masih bernafas, tapi kalau hati penuh benci, dendam, dan iri, rasanya jiwa seperti mati pelan-pelan. Pelan-pelan aku belajar jangan persulit hidupmu dengan membenci orang lain. Bukan berarti kita harus pura-pura baik atau memaklumi semua hal, tapi lebih ke cara kita merespon. Dulu, sedikit-sedikit tersinggung, bawa perasaan, lalu overthinking berhari-hari. Sekarang aku coba ganti dengan sibukkanlah dirimu untuk menjadi yang lebih baik. Misalnya, daripada fokus ke kekurangan orang lain, aku tanya ke diri sendiri: apa yang bisa aku perbaiki hari ini? Aku juga sadar, menjadi lebih baik itu bukan berarti merasa dirimu yang paling baik. Kadang, saat mulai rajin ibadah atau belajar hal-hal baru, muncul rasa bangga berlebihan. Seolah-olah kita lebih hebat dari orang lain. Padahal, sebaik-baiknya manusia bukanlah yang terlihat hebat, melainkan yang mampu menjaga hati, merendah dalam sikap, dan bermanfaat bagi sesamanya. Di titik ini aku belajar banyak tentang tulus: melakukan kebaikan tanpa menunggu pengakuan. Kalimat "belajarlah memperbaiki diri karena ketulusan, bukan pengakuan" benar-benar ngena. Ada masa di mana aku berbuat baik tapi diam-diam berharap dipuji. Saat pujian itu nggak datang, malah kecewa dan sakit hati. Dari situ aku paham, ternyata niatku masih salah. Sekarang, aku coba latihan kecil: kalau bantu orang, usahakan nggak cerita ke siapa-siapa, cukup aku dan Tuhan yang tahu. Rasanya lebih lega dan ringan. Tentang raga hidup jiwa mati, menurutku ini juga jadi pengingat kalau hidup kita makin singkat. Waktu semakin singkat, umur semakin berkurang dan ajal semakin dekat. Bukan buat ditakuti, tapi supaya kita sadar kalau energi kita terlalu berharga untuk dihabiskan buat membenci. Hidup sudah cukup berat tanpa kita menambah beban dengan drama yang sebenarnya bisa kita lepaskan. Kalau kamu lagi di fase mudah tersulut emosi, coba mulai dari hal sederhana: kurangi komentar negatif, tahan diri sebelum menghakimi, dan biasakan bertanya, "Kalau aku di posisi dia, apa aku bisa lebih baik?" Pelan-pelan, jiwa yang tadinya terasa mati karena penuh emosi negatif bisa mulai hidup lagi: lebih tenang, lebih ikhlas, dan lebih menerima. Aku masih jauh dari kata sempurna, tapi setidaknya sekarang aku lebih sadar: menjaga hati itu bagian penting dari merawat jiwa. Raga boleh lelah, tapi jangan sampai jiwa ikut padam hanya karena kita sibuk menyimpan benci. Selama masih diberi hidup, artinya kita masih punya kesempatan buat jadi versi diri yang lebih baik, dengan cara yang tenang dan tulus.




















bener skali, semoga kita selalu jadi orang pemaap