mari belajar ☺️ ✨
Kalau dengar kata musyawarah, jujur dulu aku langsung kebayang rapat RT atau diskusi di sekolah. Padahal makin ke sini aku ngerasa musyawarah itu sebenarnya hadir di kehidupan sehari-hari, bahkan dari hal sesimpel cara kita menjaga lisan, mata, tangan, dan hati. Musyawarah dalam kehidupan sehari-hari menurut aku dimulai dari AJARI LISAN untuk tidak mengucapkan kata yang menyakitkan. Di rumah, misalnya, waktu beda pendapat sama keluarga, aku usahain banget buat ngomong pelan dan jelas, bukan pakai nada tinggi. Kadang kita merasa "jujur aja" itu baik, tapi kalau cara nyampeinnya nyakitin, hasilnya bukan solusi tapi malah konflik. Di situ aku belajar kalau musyawarah itu butuh lisan yang lembut, bukan cuma argumen yang kuat. Lalu AJARI MATA untuk tidak memandang rendah orang lain. Dalam musyawarah, baik di lingkungan kerja, kampus, atau tongkrongan, setiap orang punya sudut pandang sendiri. Kalau dari awal kita sudah meremehkan orang lain, pembicaraan apa pun jadi gak sehat. Aku biasanya berusaha benar-benar melihat orang yang lagi bicara, bukan sibuk main HP atau mikir kalau pendapat dia pasti salah. Ternyata, ketika kita menghargai dengan cara "mata" yang tulus, orang jadi lebih terbuka dalam menyampaikan ide. AJARI TANGANMU untuk senang berbagi kebaikan juga penting. Musyawarah itu kan intinya mencari jalan tengah yang terbaik buat semua, bukan buat diri sendiri. Di keseharian, bentuknya bisa sesederhana bantu nyatet poin-poin diskusi, menawarkan diri jadi penengah kalau ada yang berselisih, atau berbagi solusi yang pernah kita coba. Pengalaman pribadi aku, waktu di kelompok tugas kuliah, kami sempat beda pendapat cukup keras. Akhirnya aku inisiatif nulis semua keinginan masing-masing, lalu kami cari titik temu. Tangan yang mau "turun tangan" ternyata bikin musyawarah lebih lancar. Dan yang terakhir, DAN AJARI HATI untuk tidak berprasangka buruk atau membenci siapapun. Ini yang paling susah. Dalam kehidupan sehari-hari, mudah banget muncul prasangka: "dia pasti egois", "dia cuma mau menang sendiri". Padahal setelah ngobrol baik-baik, sering banget ternyata alasan mereka masuk akal dan bukan seburuk yang kita bayangin. Di sini aku belajar kalau sebelum musyawarah dimulai, hati harus duluan tenang dan netral, niatnya mencari kebaikan bersama, bukan membuktikan siapa yang paling benar. Musyawarah dalam kehidupan sehari-hari akhirnya bukan cuma soal duduk bareng dan ngomong bergantian. Buat aku, ini proses melatih diri: jaga lisan biar lembut, jaga mata biar menghargai, jaga tangan biar siap berbagi, dan jaga hati biar jauh dari prasangka buruk. Kalau empat hal ini pelan-pelan kita praktikkan, suasana di rumah, tempat kerja, bahkan pertemanan jadi lebih hangat dan sehat. Itu cara kecil aku belajar musyawarah, dimulai dari diri sendiri dulu sebelum mengharapkan orang lain berubah.

Asalam mualaikum,hidup ini harus selalu belajar,mencari ilmu dan mencari jangan berhenti sampai tiba waktu nya kita kembali kepada Nya.