Pengingat diri #relate gak? komen yaa ☺️🤗
Aku dulu mikir kalau bersikap baik ke semua orang itu artinya harus selalu tersedia, selalu ada, dan nggak enakan buat nolak. Sampai akhirnya capek sendiri, hati penuh luka, tapi tetap pura-pura kuat. Dari situ aku belajar, kadang pengingat diri yang paling penting itu bukan soal gimana cara memaafkan orang lain, tapi gimana cara memaafkan diri sendiri karena terlalu memaksa bertahan di situasi yang bikin hancur. Ada beberapa orang yang setiap ketemu atau chat, ujung-ujungnya bikin kita ngerasa kecil, diremehkan, atau dibanding-bandingkan. Mereka bisa datang dalam bentuk teman, bahkan keluarga. Di luar kita mungkin tetap tersenyum, tapi dalam hati ada pujian ke diri sendiri yang tertahan: “Terima kasih ya, diri, sudah kuat sejauh ini.” Pujian kecil kayak gitu sering kali kita lupa ucapkan ke diri sendiri. Sekarang aku belajar kasih "pujian" ke diriku dengan cara lain: berani bilang tidak, berani menghindar dari obrolan yang toxic, dan berani memberi jarak dari orang-orang yang bikin hati nggak nyaman. Bagi sebagian orang mungkin ini terlihat dingin, tapi buatku ini bentuk sayang ke diri sendiri. Kita tetap bisa jaga ukhuwah dan silaturahmi tanpa harus membuka semua akses ke hati dan pikiran kita. Aku juga mulai biasakan untuk beri afirmasi positif tiap kali berhasil jaga batasan. Misalnya, setelah nggak membalas chat yang isinya cuma curhat sepihak tapi nggak pernah peduli balik, aku bilang ke diri sendiri: “Kamu berhak tenang. Kamu berhak pilih lingkungan yang sehat.” Itu semacam pujian halus yang bikin aku merasa lebih dihargai. Terkadang, pengingat diri datang dari momen ketika kita sadar: makin sering kita memaksa bersama orang yang salah, makin besar peluang mereka kembali menyakiti. Bukan berarti kita benci, hanya saja kita memilih menjaga hati. Jaga jarak, silent, dan skip itu bukan bentuk dendam, tapi bentuk perlindungan. Kalau kamu lagi di fase ini, jangan lupa sesekali ucapkan pujian pada diri sendiri. Bukan pujian yang berlebihan, tapi yang jujur: atas keberanianmu keluar dari lingkaran yang nggak sehat, atas keputusanmu menjaga mental tetap aman, dan atas usahamu untuk tetap baik meski pernah disakiti. Cerita-cerita kecil kayak gini mungkin sepele, tapi justru ini yang bikin kita merasa nggak sendirian. Kalau kamu relate, boleh share versi pengingat diri dan pujian untuk dirimu sendiri. Siapa tahu pengalamamu bisa jadi penguat buat orang lain juga.






















































Like ke 105