Ujung Ramadhan ✨
Menjelang akhir bulan Ramadhan, suasana hati saya selalu campur aduk antara rasa syukur dan keharuan. Seperti yang sering diceritakan, di alam Barzakh, penghuni kubur merasakan kedamaian sementara karena ampunan dan nikmat Ramadhan, namun ketika bulan suci berlalu, mereka menangis karena kehilangan nikmat tersebut. Hal ini sangat mengingatkan saya akan pentingnya tidak menyia-nyiakan waktu yang tersisa di Ramadhan. Saya pernah merasakan bagaimana hati ini terasa berat ketika Ramadhan hampir berakhir, terutama saat saya mulai sadar bahwa masih banyak ibadah yang belum maksimal saya jalankan. Tangisan saya bukan hanya karena merasa belum cukup dalam beribadah, tetapi juga rasa takut kehilangan kesempatan mendapatkan ampunan dan rahmat Allah yang begitu besar di bulan suci ini. Pengalaman saya menunjukkan bahwa menangis di akhir Ramadhan bukan sekadar ekspresi emosional, melainkan bentuk kesadaran penuh bahwa waktu sangat berharga. Rasulullah SAW pun pernah menangis mengingat nasib umatnya, agar kami dapat mengambil hikmah bahwa Ramadhan adalah waktu pembaharuan iman dan kesempatan untuk meningkatkan amal baik. Bagi saya, menutup Ramadhan dengan penuh rasa syukur dan penyesalan membuat saya lebih termotivasi untuk memperbaiki diri di bulan-bulan berikutnya. Saya berusaha untuk tidak hanya menyambut Ramadhan dengan sekedarnya, tetapi benar-benar merasakan setiap detik nikmat dan berkahnya. Dengan begitu, saat Ramadhan berakhir, saya merasa telah berusaha maksimal dan siap melanjutkan perjalanan spiritual. Melalui kisah tangisan penghuni alam Barzakh hingga tangisan para ulama, saya diajak ikut merenungi betapa pentingnya menghayati setiap momen Ramadhan. Semoga kita semua dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, sehingga tidak hanya menangis di akhir Ramadhan, tetapi juga menjadikannya momentum untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan taat kepada Allah.












derita hatiku untuk beranjak pulang kampung selama aku di tingal di perantauan yg di hianati istri kan ku terima dengan hati sabar dan sakit ditingal oleh wanita di pendampingnya anak yg di bawa dan di lantarka betapa hati ini terluka dan sedih ku yg dalam kepulangan ku ini untuk mencari anak dan mencari sandaran ibu kandung yg kutingal kan 16 tahu kepulangan ku yg pincang saat momen lebaran tahun ini