JANGAN SAMPAI PAHALA RAMADHANKU HABIS PAS LEBARAN
Haaaiii 🤗 assalamu'alaikum teman-2 🍋 💙
Gak kerasa ya, sebulan penuh kita jaga lisan dan hati selama Ramadhan 2026, eh pas Lebaran malah diuji sama circle sendiri.
Jujur, moment Idul Fitri yang harusnya penuh maaf-maafan, kadang malah jadi ajang paling bikin 'panas' hati. Siapa nih yang mulai ketar-ketir dapet undangan kumpul keluarga?
Hal Bikin Aku Sebel Pas Lebaran;
1. Silaturahmi 'Toxic' (Ajang Interogasi)
Bukannya ditanya "Gimana kabarnya?", malah ditanya "Kapan lulus?", "Kapan nikah?", atau "Kerja di mana sekarang?","koq masih pake motor kesininya"
Pertanyaan-pertanyaan ini sering banget gak mikirin perasaan orang lain. Padahal, ngejaga lisan itu ibadah lho.
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari & Muslim).
2. Sibuk Gadget (Fisik Ada, Jiwa Di Sosmed)
Ini yang paling bikin nyesek. Sudah setahun gak ketemu, pas kumpul malah asyik scroll hp liat sosmed atau main game sendiri. Lawan bicara berasa ngomong sama tembok. Padahal esensi Lebaran itu ya deep talk dan koneksi nyata.
"Saling bersalam-salamahlah kalian, maka akan hilanglah rasa dendam (iri hati) di hati kalian." (HR. Malik). Gimana mau hilang dendam kalau disalami aja nggak nengok karena asyik main HP?
3. Ghibah Berkedok 'Update Info'
Awalnya nanya kabar saudara yang gak dateng, eh lama-lama malah nge-gibahin kekurangan atau masalah hidupnya. Sayang banget, baru juga selesai Ramadhan, masa catatan amal langsung kotor lagi gara-gara ngomongin orang?
Padahal Allah SWT udah tegas ingetin kita untuk jauhin ghibah
"Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain..." (QS. Al-Hujurat: 12). Ghibah/Gosip itu ibarat makan daging saudara sendiri yang sudah mati. Hii, ngeri kan!
4. Adu Gengsi & Penampilan
Gak jarang momen Lebaran jadi ajang pamer pencapaian atau penampilan luar biasa. Ada yang sibuk pamer outfit branded dari ujung rambut sampai kaki, ada juga yang obrolannya isinya cuma tentang "anakku kerja di sini" atau "suamiku baru beli itu". Bukannya saling mendoakan, malah jadi ajang bikin orang lain merasa rendah diri.
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta benda kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian." (HR. Muslim).
5. Tuan Rumah "Menghilang" 🚗💨
Pernah gak sih udah jauh-jauh datang mau sungkem, eh rumahnya kosong karena yang punya rumah milih wisata atau healing di 3 hari pertama lebaran ? Sedih banget ya, moment setahun sekali buat tatap muka malah keganti sama foto pemandangan di Story. Padahal silaturahmi langsung itu gak bisa digantikan sama chat WhatsApp doang.
Hikmah Lebaran 2026 nanti simpel: jaga lisan, hargai orang yang ada di depan mata, dan stop cari-cari kesalahan orang lain. Mari kita jaga kesucian hati yang udah kita perjuangkan selama sebulan penuh kemarin.
Nah, kalau menurut kalian, apa sih satu hal atau pertanyaan dari keluarga besar yang paling bikin kalian capek secara mental pas Lebaran sampai rasanya pengen cepet-cepet pulang?
Tulis di kolom komentar ya, biar kita saling nguatin !
#CeritaLebaran #RamadhanGuide #AntiBoncos #PengalamanKu Lemon8IRT Bude Lemon8 Lemon8 Family ✨ Lemon8_ID
Momen Lebaran sering jadi saat yang dinanti untuk berkumpul dengan keluarga dan kerabat. Namun, pengalaman pribadi saya menunjukkan bahwa kebahagiaan Lebaran bisa terganggu oleh beberapa kebiasaan yang tidak mendukung suasana silaturahmi yang sehat dan penuh rahmat. Misalnya, saya pernah merasakan betapa melelahkannya saat menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang terasa seperti interogasi, seperti "Kapan nikah?" atau "Kapan lulus?" yang seringkali bikin hati tidak nyaman, apalagi jika status hidup kita belum sesuai harapan orang lain. Sebenarnya, menjaga ucapan adalah sebuah ibadah seperti yang diajarkan dalam hadits: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari & Muslim) Selain itu, kehadiran gadget selama kumpul keluarga juga menjadi kendala. Rasanya aneh saat tahun-tahun hanya bertemu setahun sekali, tetapi ketika berkumpul, kebanyakan orang malah asyik main ponsel, tanpa interaksi yang berarti. Ini membuat makna Lebaran sebagai waktu untuk mempererat hubungan menjadi hilang. Hal lain yang tak kalah menggangu adalah ghibah dengan alasan 'update info'. Dari pertanyaan sederhana tentang kabar saudara yang tidak hadir, sering berubah jadi membicarakan kekurangan mereka. Padahal, dalam Al-Qur'an (QS. Al-Hujurat: 12) sudah jelas dilarang menggunjing karena itu seperti memakan daging saudara yang sudah mati. Moment pamer penampilan atau pencapaian juga kerap terjadi. Banyak orang merasa perlu menunjukan harta atau status sosialnya sehingga membuat suasana silaturahmi menjadi tidak nyaman dan bahkan menimbulkan rasa rendah diri bagi yang lain. Hadits juga mengingatkan bahwa Allah melihat hati dan amal, bukan dari rupa atau harta (HR. Muslim). Saya pun pernah merasakan kecewa saat datang ke rumah keluarga untuk sungkem tapi ternyata rumah kosong karena tuan rumah memilih untuk berlibur atau healing selama beberapa hari Lebaran. Padahal kesempatan untuk bertemu langsung setahun sekali tersebut sangat berharga dan tidak tergantikan dengan chat atau unggahan media sosial. Dari pengalaman saya, kunci agar pahala Ramadhan tetap terjaga saat Lebaran adalah dengan menjaga lisan, menghargai kehadiran orang di depan kita, menghindari gosip, dan fokus pada kebersamaan yang bermakna. Saya mengajak teman-teman semua untuk refleksi pengalaman pribadi kalian saat Lebaran dan berbagi di kolom komentar, supaya kita bisa saling menguatkan dan membuat momen Lebaran lebih bermakna dan penuh berkah.






klo aku pasti selalu di tanya kapan punya rumah sendiri kak🤭🤭🤭