Baru Tau Ada Dokter Julid di Sosmed? Kasus Amanda Zahra!
Haaaiii 🤗 assalamu'alaikum teman-2 🍋 💙
Kak! Pernah gak sih ngerasa udah dandan rapi, pakai baju yang menurut kita paling oke, tapi pas keluar rumah atau posting di sosmed, malah dapet tatapan atau komentar yang bikin down? 🥺
Jujur, aku pribadi sering banget nemu momen di mana penampilan fisik kita sebagai perempuan seolah-olah jadi ruang publik yang bebas dikomentari siapa aja. Mau kurus, berisi, pakai baju tertutup, atau sedikit terbuka, rasanya selalu ada celah buat dihakimi.
Kasus yang lagi ramai belakangan ini tentang Amanda Zahra yang dikomentari negatif soal penampilannya—bahkan oleh seorang tenaga kesehatan perempuan—bikin aku mikir keras. Kok bisa ya, ruang yang harusnya jadi tempat saling support, malah berubah jadi tempat saling ngejatuhin? Padahal kita tahu sendiri gimana susahnya ngebangun rasa percaya diri.
Aku percaya, setiap perempuan punya hak penuh atas dirinya tanpa harus selalu memenuhi standar orang lain. Kritik fisik itu bukan masukan, tapi cuma cara orang lain ngasih pendapat ketidaknyamanan mereka sendiri.
Yuk Kak, mulai sekarang kita lebih fokus buat saling jaga dan nguatin sesama perempuan, bukan malah sebaliknya. Self-love itu dimulai dari cara kita menghargai diri sendiri dan orang lain.
Kalo menurut Kakak sendiri, gimana sih cara paling bijak buat ngadepin komentar yang hobi body shaming atau julid di sekitar kita? Sharing di kolom komentar yuk!👇🏼
... Baca selengkapnyaDalam pengalaman pribadi, memang sering sekali kita menghadapi situasi di mana komentar negatif datang dari tempat yang tidak kita sangka, seperti kasus Amanda Zahra yang mendapat kritik dari seorang dokter di media sosial. Hal ini menjadi pelajaran penting bahwa siapa pun, termasuk tenaga profesional, harus menjaga etika dan memberikan dukungan, bukan memperburuk kondisi mental seseorang.
Sebagai perempuan, saya juga pernah merasakan tekanan dari komentar julid yang datang secara tiba-tiba. Awalnya, komentar seperti itu bisa sangat menyakitkan dan membuat rasa percaya diri menurun. Namun, seiring waktu saya belajar untuk membedakan mana kritik yang membangun dan mana sekadar cemoohan yang tidak perlu dihiraukan. Self-love sangat penting untuk menjaga kesehatan mental dan kebahagiaan pribadi.
Ruang media sosial seharusnya menjadi tempat yang aman dan positif, namun kenyataannya banyak ruang publik maya yang menjadi ajang body shaming dan bullying. Hal ini menyebabkan banyak perempuan merasa tertekan dan enggan berbagi. Kasus Amanda menjadi pengingat bahwa kita perlu bersama-sama membangun budaya saling menguatkan, menghormati perbedaan fisik dan pilihan masing-masing.
Saran saya adalah selalu membangun jaringan support system, baik teman dekat maupun komunitas yang positif, untuk saling berbagi pengalaman dan memberi motivasi dalam menghadapi komentar negatif. Juga, penting mengingat bahwa opini orang lain bukan ukuran nilai diri kita. Kita berhak menentukan standar kecantikan dan kebahagiaan sendiri.
Melawan body shaming juga merupakan bentuk perjuangan bersama. Jika menerima komentar negatif, cobalah untuk menanggapinya dengan bijak atau mengabaikannya jika itu merugikan. Ingat, kekuatan perempuan terletak pada rasa percaya diri dan solidaritas antar sesama.
Akhirnya, mari kita mulai dari diri sendiri dengan mempraktikkan self-love dan menjadi contoh positif yang memberi hormat dan dukungan kepada perempuan lain. Dengan begitu, media sosial dapat menjadi ruang yang lebih sehat dan menyenangkan bagi semua orang.
g bisa lupa...
anak gadis sy waktu itu menginjak dewasa...ada baju mamanya yang muat ia minta dan ia pakai pas itu di pakai untuk mengaji...
apa yang terjadi ?p ustad nya ...telah membuat oleng mentalnya..dengan kata2 kamu pakai baju kayak mau takziah saja gtu....mulai hari itu dia g mau ngaji di tempat ustad itu lagi..🥹
.....kebetulan anak saya skrg jd seorang pramugari..ketemu p ustad nya jadi penumpangnya..dia g mau negur 🥹
sebegitu traumanya dia..ingat waktu itu
malu juga sedih katanya🥺🥺
g bisa lupa... anak gadis sy waktu itu menginjak dewasa...ada baju mamanya yang muat ia minta dan ia pakai pas itu di pakai untuk mengaji... apa yang terjadi ?p ustad nya ...telah membuat oleng mentalnya..dengan kata2 kamu pakai baju kayak mau takziah saja gtu....mulai hari itu dia g mau ngaji di tempat ustad itu lagi..🥹 .....kebetulan anak saya skrg jd seorang pramugari..ketemu p ustad nya jadi penumpangnya..dia g mau negur 🥹 sebegitu traumanya dia..ingat waktu itu malu juga sedih katanya🥺🥺