ada ajalah projeknya tiap hari
Dalam situasi nyata, seperti yang saya alami di perusahaan tempat saya bekerja, ketika hanya sebagian printer yang beroperasi dan pengawas mendapatkan jatah istirahat, penting untuk memahami bagaimana hal itu memengaruhi total waktu penyelesaian pekerjaan mencetak. Misalnya, sebuah perusahaan memiliki 15 printer yang bisa menyelesaikan mencetak dalam 2 jam jika semua printer digunakan. Namun, jika hanya 6 printer yang difungsikan, maka produksi akan berjalan lebih lambat. Selain itu, pengawas yang mengontrol printer diberi waktu istirahat selama 1 jam, yang berarti ada waktu kerja efektif yang berkurang. Untuk menghitung total waktu penyelesaian, kita perlu mempertimbangkan bahwa kemampuan mencetak berbanding lurus dengan jumlah printer yang beroperasi. Jadi, 15 printer dalam 2 jam bisa dianggap sebagai 30 printer-jam (15 printer x 2 jam). Jika cuma 6 printer yang digunakan, maka kapasitas per jamnya adalah 6 printer-jam. Selanjutnya, menghitung berapa jam yang dibutuhkan agar pekerjaan 30 printer-jam selesai: 30 printer-jam / 6 printer = 5 jam kerja efektif. Namun, karena pengawas harus istirahat selama 1 jam, waktu total menjadi 6 jam. Ini artinya pekerjaan mencetak selesai dalam waktu 6 jam dengan kondisi tersebut. Pengalaman ini mengajarkan saya pentingnya perencanaan sumber daya dan jadwal kerja agar target produksi tetap tercapai meski ada keterbatasan alat dan sumber daya manusia. Juga, hal ini menekankan pentingnya mempertimbangkan waktu istirahat agar keseimbangan kerja dan istirahat tetap terjaga tanpa mengorbankan hasil produksi.
