Jadi irt, pilihan atau terpaksa?
Kalian para istri atau ibu yang lulusan S1 tapi memilih jadi irt, apa alasan kalian untuk jadi irt?
Dan kalo boleh tau cara kalian mengatasi pusingnya jadi irt bagaimana?
Btw aku lulusan S1 juga, tapi aku lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, untuk melihat perkembangan anakku. Awalnya resign kerja aku pikir mudah jadi seorang ibu yang di rumah, tapi ternyata ga semudah itu. But aku enjoy banget jalaninnya karna udh keputusanku untuk menjadi IRT. Paling kalo pusing dikit pengen kerja lagi 😂 tapi giliran ada yg nawarin kerja di tolak hahaha masih pengen sama anak.. Mungkin di kemudian hari aku bakal kerja lagi sampai aku ikhlas anakku di rawat orng selain aku ☺#IRTAwards #CurcolanHati
Menjadi ibu rumah tangga setelah lulus S1 memang bisa menjadi pilihan yang cukup kompleks. Banyak yang bertanya-tanya apakah keputusan ini datang dari kesadaran penuh atau karena tekanan lingkungan. Faktanya, menjadi IRT bukan sekadar berhenti berkarier, melainkan mengambil peran penting dalam perkembangan keluarga, terutama anak-anak. Sebagai seorang IRT, kendala yang sering muncul adalah perasaan jenuh dan pusing karena rutinitas yang monoton serta kurangnya interaksi sosial seperti di lingkungan kerja. Untuk mengatasi hal ini, penting untuk menemukan kegiatan positif di rumah, misalnya belajar keterampilan baru, mengikuti komunitas online, atau melakukan hobi yang bermanfaat. Cara ini dapat membantu memberikan keseimbangan emosional dan membuat hari-hari terasa lebih bermakna. Selain itu, memilih menjadi IRT juga memberikan kesempatan untuk menyaksikan secara langsung tumbuh kembang anak, yang tidak bisa didapat dengan mudah melalui pengasuh lain. Ada rasa bangga dan kepuasan tersendiri saat dapat terlibat penuh dalam pendidikan dan pembentukan karakter anak sejak dini. Meskipun kadang muncul keinginan untuk kembali bekerja, keputusan ini harus disesuaikan dengan kondisi keluarga dan kesiapan mental. Beberapa IRT memilih pekerjaan paruh waktu atau bisnis rumahan sebagai solusi agar tetap produktif tanpa meninggalkan anak terlalu lama. Lebih jauh lagi, penting untuk membangun jaringan dengan sesama IRT supaya bisa saling berbagi pengalaman dan dukungan emosional. Dengan cara ini, para ibu rumah tangga lulusan S1 dapat lebih percaya diri menjalani peran mereka dan menjaga kualitas hidup yang baik. Jadi, meskipun terlihat sederhana, menjadi IRT adalah pilihan yang memerlukan pertimbangan matang dan komitmen tinggi. Pilihan ini bukan semata-mata karena terpaksa, melainkan sebuah keputusan berharga yang membawa dampak positif bagi keluarga dan diri sendiri.

yay sih kk, padahal ada yg rekrut d PT tp aku malah gk mau, sprtinya aku keberatan harus nitip anak klo aku krja🥺