🌸buku 2 barista🌸 berhasil membuka luas pandanganku tentang kehidupan yg ada di Pondok Pesantren, & belajar tentang keluasan hati yg diberikan oleh Ning Mazarina untuk memberikan keturunan bagi suaminya yg merukan penerus Ponpes Tegalklopo. banyak fitnah yg ia hadapi, tapi Ning Mazarina tetap rendah hati sehingga fitnah tsb meluap sendiri. bahkan Gus Ahvash (suaminya) meski telah melakukan poligami, tetap mencintai-Nya dengan amat sangat yg ia harapkan.
⭐️ratenya 1000000/10 alias bwagus bgt beneran, ini aku masih gamonn karena banyak pelajaran agama yg aku dapet after baca buku ini❤️
🌸buku as long as the lemon trees grow🌸
berhasil bgt bikin aku mewek melihat pengorbanan yg dilakukan oleh Salama untuk masyarakat Suriah. ia salah satu contoh Tokoh perempuan hebat yg dimiliki Suriah, bahkan selama perang, ia mengesampingkan segala bentuk ketakutan dan keberanian untuk melarikan diri dari negara itu.
ah, namun kisah SALAMA INI SANGAT ROMANTIC karena dibalik perang, ada kekasih yg ia temukan. dan hebatnya mereka hidup bahagia, hingga kini.
⭐️rate nyaaa 10000000/10 jugaaak!🥰
gimana enggak? ini bagus bgt ASLI.
nah 2 buku ini sad book rekomendasi aku yg wajib bgt kalian baca. WAJIB BGT KARENA EMANG SEBAGUS ITU!
komen ya kalo kalian dah pernah baca bukunya? suka gak?
... Baca selengkapnyaSejujurnya, sebelum baca novel Dua Barista aku kira ini cuma kisah cinta biasa tentang barista. Ternyata isinya jauh lebih dalam dari yang aku bayangin. Latar Pondok Pesantren Tegalklopo bikin suasana ceritanya adem tapi juga penuh konflik batin. Di situ aku belajar gimana perasaan seorang istri yang harus menerima poligami, tapi tetap berusaha ikhlas dan sabar.
Ning Mazarina jadi tokoh yang paling nyangkut di hati. Cara beliau menghadapi fitnah, tekanan keluarga, dan beban sebagai penerus ponpes bikin aku kepikiran lama. Novel Dua Barista bukan cuma tentang cinta antara Ning Mazarina dan Gus Ahvash, tapi juga tentang cinta pada ilmu, keluarga, dan kehormatan. Kalau kamu lagi nyari info tentang "novel Dua Barista" atau penasaran apakah "buku barista" ini worth to read, menurutku jawabannya: iya, banget. Ceritanya rapi, dialognya hidup, dan nuansa pesantrennya berasa realistis tapi tetap hangat.
Yang aku suka, penulis nggak mengglorifikasi poligami, tapi nunjukin sisi manusiawi semua tokohnya. Ada cemburu, ada luka, tapi juga ada usaha saling memahami. Jadi kalau kamu lagi cari bacaan yang bisa bikin mikir soal hubungan suami istri, agama, dan ketabahan, Dua Barista ini cocok banget. Apalagi buat yang pengen lihat gambaran kehidupan di pondok pesantren dari sudut pandang perempuan.
Sementara As Long As The Lemon Trees Grow punya rasa sedih yang beda. Setting Suriah yang dilanda perang bikin tiap halaman kerasa menyesakkan. Salama digambarkan sebagai perempuan kuat yang tetap berjuang di tengah ketakutan, kehilangan, dan ancaman nyawa. Tapi di tengah semua itu, ada sisi romantis yang manis dan hangat, bikin kita percaya kalau bahagia tetap bisa ditemukan meski dunia lagi berantakan.
Dua buku ini sama-sama termasuk kategori sad book, tapi sedihnya nggak cuma bikin nangis, melainkan bikin refleksi. Setelah selesai, aku beneran gabisa move on karena masih kepikiran karakter-karakternya. Kalau kamu tipe pembaca yang suka novel dengan tema pengorbanan, perjuangan hidup, dan cinta yang kompleks, menurutku novel Dua Barista dan As Long As The Lemon Trees Grow wajib banget masuk wishlist. Jangan lupa siapin tisu dan mental sebelum mulai baca, karena perjalanan emosinya lumayan menguras hati, tapi rasanya tetap worth it.