baca buku ini uda kaya alarm kehidupan untuk selalu bersyukur!
ada animasinya, bahasanya ringan, bikin kamu jadi memahami dan mendalami karakter ‘ale’ yang lagi ada di hidup & mati, tapi dia berhasil nemuin arti diirii nya di tempat yang gapernah dia sangka sangka. mungkin kehidupan kamu kedepan akan jg begitu? bacaa yuk!
... Baca selengkapnyaJujur, waktu pertama kali ngeliat judul "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati", aku kira ini cuma novel galau biasa. Tapi pas mulai baca, terutama bagian "Am I Living or Just Passing Time?", aku langsung keinget beberapa novel lain yang temanya mirip, kayak "Seminggu Sebelum Aku Mati" atau kisah-kisah seputar krisis umur 30-an yang lagi sering muncul di FYP.
Tokoh Ale di buku ini itu pekerja kantoran 37 tahun yang didiagnosis depresi akut. Di satu sisi, dia kelihatan punya hidup "normal" versi standar masyarakat: kerja, rutinitas, punya tanggung jawab. Tapi di sisi lain, batinnya capek banget, sampai muncul pertanyaan klasik: sebenarnya aku ini hidup beneran atau cuma numpang lewat aja? Nah, tema ini mirip sama beberapa novel coming-of-age versi dewasa, cuma di sini dibawain dengan bahasa yang ringan dan ada animasi, jadi nggak kerasa digurui.
Yang paling ngena buat aku adalah bagian highlight kalimat tentang hidup bukan perlombaan. Selama ini kita sering banget kejar pencapaian: umur segini harus sudah punya A, B, C. Padahal Ale di buku ini nunjukin kalau hidup itu bukan cuma soal nyampe finish paling cepat, tapi gimana kita bisa berhenti sebentar, ngerasain seporsi "mie ayam" versi hidup kita masing-masing—momen kecil yang ternyata berharga banget.
Kalau kamu lagi cari bacaan yang feel-nya mirip-mirip dengan novel-novel reflektif seperti "Seminggu Sebelum Aku Mati" atau kisah-kisah seribu mimpi di usia 30–an ke atas, buku ini menurutku cocok banget. Bukan cuma buat kamu yang lagi ngerasa hampir nyerah, tapi juga buat yang lagi di persimpangan: mau lanjut kerja begini terus atau berani berubah? Ale menggambarkan perasaan tubuh yang lemas, mental yang capek, tapi pelan-pelan dia belajar berdamai sama dunia dan sama dirinya sendiri.
Yang bikin aku tambah suka, beberapa bab kayak "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" itu relatable banget. Ada bagian yang bikin kamu ngerasa, "Loh, kok kayak aku?" Dari kemarahan, kecewa sama diri sendiri, sampe akhirnya pelan-pelan sadar kalau bersyukur itu bukan berarti semua hal di hidup harus sempurna dulu.
Kalau kamu lagi nyari bacaan awal tahun yang bisa jadi alarm hidup, yang bikin kamu mikir soal prioritas, kesehatan mental, dan arti bahagia versi kamu sendiri, menurutku buku ini wajib kamu coba. Baca pelan-pelan, kasih waktu buat mencerna tiap kalimat, dan jangan kaget kalau kamu jadi pengen evaluasi hidup setelahnya.