... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali belajar bahasa Jepang, aku juga cuma tahu kalau ada tiga aksara: Hiragana, Katakana, dan Kanji. Tapi baru paham bener setelah ngerti kalau Hiragana dan Katakana itu aksara silabis (tiap huruf mewakili suku kata), sedangkan Kanji fokus ke makna.
Hiragana biasanya dipakai untuk:
- kata-kata asli bahasa Jepang,
- partikel (seperti は, を, に),
- akhiran kata kerja dan kata sifat,
- furigana, yaitu tulisan kecil di atas Kanji untuk nunjukin cara bacanya.
Katakana dipakai buat:
- kata serapan dari bahasa asing (misalnya コンピューター komputer),
- nama orang asing atau nama kota di luar Jepang,
- bunyi-bunyian (onomatopoeia),
- kadang untuk penekanan, mirip huruf kapital dalam bahasa Indonesia.
Sedangkan Kanji dipakai buat nunjukin makna kata benda, kata kerja, dan kata sifat. Satu Kanji bisa punya beberapa cara baca (onyomi dan kunyomi), dan semua cara bacanya itu ditulis dengan aksara silabis Hiragana. Karena itu, di banyak buku pemula, di atas Kanji akan ada furigana Hiragana untuk bantu baca.
Menurut pengalamanku, urutan belajar yang paling aman:
1. Kuasai dulu Hiragana sampai lancar baca-tulis tanpa lihat contekan.
2. Lanjut ke Katakana, karena dipakai untuk kata serapan dan nama asing, sering banget muncul di manga, anime, atau papan reklame.
3. Baru pelan-pelan masuk ke Kanji, mulai dari Kanji dasar yang sering dipakai.
Biar nggak bosan, aku dulu sering latihan baca poster, kemasan makanan, atau tulisan di anime. Biasanya ada kombinasi Hiragana, Katakana, dan Kanji dalam satu kalimat. Dari situ kerasa banget fungsi masing-masing aksara: Hiragana buat struktur kalimat, Katakana buat kata asing, dan Kanji buat inti makna. Kalau sudah paham konsep "aksara silabis" dan kenapa Hiragana-Katakana wajib duluan, belajar Kanji jadi jauh lebih mudah dan nggak terlalu menakutkan.