Salve.Selamat jalan Suster. Semoga bahagia di temp

2025/8/15 Diedit ke

... Baca selengkapnyaMomen perpisahan dengan seorang suster yang dekat dengan kita sering bikin hati campur aduk. Dari foto biarawati di depan kaca patri dan ucapan selamat jalan itu, aku pribadi jadi keinget lagi soal makna pengabdian, ketulusan, dan terutama tentang niat dalam beribadah. Aku pernah ada di fase seperti Ahmad dalam contoh soal pelajaran agama: di rumah shalat biasa saja, cepat dan seadanya. Tapi begitu di masjid sekolah, tiba-tiba bacaan shalat diperkeras, sujud diperlama, dan gerakan dibuat seolah sangat khusyuk. Kalau jujur sama diri sendiri, kadang ada rasa ingin dilihat rajin oleh teman dan guru. Dari situ aku baru paham, ini yang disebut riya’ dalam niat beribadah. Riya’ itu halus banget. Dari luar, perbuatan dan gerakan ibadahnya kelihatan benar: shalatnya sesuai gerakan, bacaannya juga baik. Tapi yang keliru ada di dalam hati: tujuan beribadah sudah bergeser dari mencari ridha Tuhan menjadi mencari pujian manusia. Jadi bukan cuma "perbuatan/gerakan ibadah" yang dinilai, tapi terutama "niat beribadah" di baliknya. Kalau aku bandingkan dengan sosok suster atau biarawati yang aku kenal, justru yang bikin mereka kelihatan istimewa itu bukan karena sering pamer kebaikan, tapi karena banyak hal baik yang mereka lakukan diam-diam. Menemani orang sakit, mendengarkan keluh kesah, mengajar anak-anak, mendoakan dalam sunyi. Mereka jarang sekali mengumbar cerita tentang kebaikan mereka sendiri. Dari situ aku belajar, mungkin beginilah gambaran ibadah yang jauh dari riya: tetap setia melayani walau tidak ada yang menonton. Buat aku pribadi, ada beberapa hal yang membantu untuk lebih ikhlas: 1. Selalu tanya ke diri sendiri sebelum ibadah: "Kalau tidak ada yang lihat, masih mau lakukan ini?" Kalau jawabannya "enggan", berarti niatnya perlu dibenahi. 2. Usahakan beberapa amal baik benar-benar hanya kita dan Tuhan yang tahu, misalnya sedekah diam-diam atau doa khusus di malam hari. 3. Kurangi keinginan mengumumkan semua kebaikan di media sosial. Bukan berarti tidak boleh share kebaikan, tapi cek lagi: ini buat menginspirasi atau sekadar ingin dipuji? 4. Ingat bahwa pujian manusia itu sementara. Hari ini dipuji rajin, besok bisa saja dilupakan. Tapi ibadah yang dilakukan dengan niat yang lurus akan selalu bernilai di sisi Tuhan. Saat mengucapkan selamat jalan kepada seorang suster yang hendak pindah atau memasuki babak hidup baru, aku jadi merasa seperti dapat pengingat hidup: suatu saat kita juga akan "selamat jalan" dari dunia ini. Yang dibawa bukan foto, bukan pujian, tapi niat dan amal yang tulus. Jadi, ketika lihat cerita tentang Ahmad yang memanjangkan sujud hanya saat dilihat orang, aku langsung ngeh bahwa itu contoh riya’ dalam niat beribadah. Dari situ aku berusaha lebih jujur pada diri sendiri: bukan cuma memperbaiki gerakan ibadah, tapi juga terus-menerus memperbaiki niat di dalam hati. Momen perpisahan dengan suster di depan jendela kaca patri itu pun akhirnya jadi pengingat lembut: jangan hanya terlihat religius di luar, tapi kosong di dalam.

Cari ·
ucapan happy wedding sahabat