Stop Bilang "Namanya Juga Anak-anak"

Kalau semua dimaklumi karena ‘masih anak-anak’,

kapan mereka belajar tanggung jawab? 🤔

Menurut pendapat aku, aku kurang setuju kalau menormalisasikan kalimat “namanya juga anak-anak” untuk membenarkan perilaku yang salah.

Aku kadang bingung sekaligus kesel.

Ada anak di bawah 10 tahun, bukan sekali dua kali bikin onar.

Udah sering ditegur, tapi respon orang tuanya selalu sama “Namanya juga anak-anak, maklumi aja ya.”

Padahal, kalau semua terus dimaklumi, anak itu kapan belajar mana yang benar dan salah?

Anak-anak memang masih belajar, iya. Tapi justru di situlah peran orang tua bukan cuma membela, tapi juga membimbing dan menegur dengan benar.

Karena kalau dari kecil semua dianggap wajar, takutnya kebiasaan itu kebawa sampai besar 😔

Dan yang kena dampaknya bukan cuma dia, tapi juga orang lain di sekitarnya.

Menurutku, sayang anak itu bukan berarti membiarkan.

Tapi mengarahkan, walau kadang harus tegas.

Kalau menurut kamu gimana besti? 🤔

#OpiniHariIni #Parenting #AnakDanOrangTua #fyplemon #ReviewJujur

4/2 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSebagai orang yang sering berinteraksi dengan anak-anak, saya sering melihat banyak orang tua yang membiarkan perilaku anaknya hanya karena mereka masih kecil. Memang benar, anak-anak masih dalam proses belajar, tetapi jika perilaku salah terus-menerus dibiarkan dengan alasan 'namanya juga anak-anak', hal ini justru dapat menimbulkan kebiasaan buruk yang sulit diubah di kemudian hari. Saya pernah mengalami sendiri bagaimana memberi batasan yang jelas pada anak membantu mereka belajar bertanggung jawab. Misalnya, ketika anak saya berbuat salah, saya tidak langsung memaafkannya begitu saja, melainkan menjelaskan dengan sabar kenapa perilaku itu salah dan konsekuensi yang bisa terjadi. Ternyata, anak juga merasa dihargai ketika dia diajak berkomunikasi bukan hanya diberi hukuman atau dibela tanpa alasan. Selain itu, pendekatan tegas namun penuh kasih sayang penting agar anak mengerti bahwa sayang tidak berarti membiarkan, melainkan mendidik dengan benar. Saya juga menyadari bahwa terus membela anak tanpa mengarahkan mereka akan berdampak buruk bagi lingkungan sekitar, seperti rasa tidak nyaman bagi orang lain yang menjadi korban perilaku onar tersebut. Melalui pengalaman ini, saya percaya bahwa orang tua harus berani menegur dan mengarahkan anak. Hal itu bukan hanya tentang disiplin, tapi juga menanamkan nilai-nilai tanggung jawab dan pilihan yang benar atau salah sejak dini. Jika kita semua setuju bahwa "masih anak-anak" bukan alasan membiarkan perilaku salah, maka kita turut berkontribusi menciptakan generasi yang bertanggung jawab dan peduli pada sesama.