People come and go?Perihal orang-orang yang datang
People come and go?
Perihal orang-orang yang datang dan pergi di setiap perjalanan yang kita lalui. Tentang bagaimana kita menaruh harapan pada seseorang yang pernah memberi kebahagiaan dan pergi meninggalkan luka.
Tentang bagaimana keikhlasan hati merelakan seseorang yang dulunya begitu dekat dan tiba-tiba harus menjadi asing.
jangan menaruh harapan pada manusia, ya.
karena kita tahu manusia bisa berubah kapan saja. Jangan menjadikan “sayang” sebagai alasan untuk menyakiti dirimu demi orang lain yang belum tentu peduli terhadapmu.@Lemon8IRT @Lemon8_ID @#LifeBingo #RahasiaIRT #CurcolanHati #CeweBanget #ViralTerbaru
Ada fase dalam hidup ketika kita harus belajar merelakan seseorang yang kita cintai. Bukan karena rasa sayang itu hilang, tapi karena bertahan justru membuat kita makin tersakiti. Dulu aku pikir kalau benar-benar sayang, kita harus berjuang sampai habis-habisan. Ternyata tidak selalu begitu. Orang datang dan pergi, kadang tanpa penjelasan yang kita anggap cukup. Kita pernah begitu dekat, saling berbagi mimpi, sampai suatu hari semuanya terasa asing. Di titik itu aku sadar, menaruh harapan pada manusia adalah seni paling sederhana untuk menderita kalau harapan itu kita letakkan terlalu tinggi. Pelan-pelan aku belajar mengikhlaskan seseorang. Pertama, aku berhenti mencari-cari alasan kenapa dia berubah. Alasan manusia bisa berubah kapan saja itu banyak: bisa karena bertumbuh, karena luka yang tak pernah ia ceritakan, atau memang karena cerita kalian sudah selesai. Memaksa mencari jawaban hanya bikin hati makin lelah. Kedua, aku mencoba menerima bahwa yang datang dan yang pergi sama-sama punya peran. Ada yang datang untuk mengajarkan arti kebahagiaan, ada yang pergi untuk mengajarkan arti keikhlasan. Dari situ aku mulai belajar memaknai setiap pertemuan sebagai titipan, bukan kepemilikan. Cara merelakan seseorang yang kita sayang menurut pengalamanku: beri ruang untuk dirimu berduka, tapi jangan mengabadikan luka itu. Tulis perasaanmu, boleh dalam bentuk kata-kata merelakan orang yang kita sayang atau bahkan gambar meninggalkan seseorang dengan latar alam yang teduh—seperti mengizinkan hati ikut tenang. Lalu, perlahan kembalikan fokus pada dirimu sendiri. Apa yang kamu suka, siapa teman-teman yang tetap ada ketika orang lain datang lalu pergi, kegiatan apa yang bikin kamu merasa hidup lagi. Di situ kamu akan sadar, manusia datang dan pergi, tapi kamu selalu punya dirimu sendiri. Pada akhirnya, mengikhlaskan bukan berarti melupakan, tapi menerima bahwa cerita itu sudah selesai. Orang datang, lalu pergi, dan itu wajar. Yang penting, jangan lagi menjadikan "sayang" sebagai alasan untuk menyakiti diri sendiri. Cukup jadikan semua yang terjadi sebagai pelajaran agar lain kali, ketika ada yang datang, kamu tetap ingat untuk sayang diri sendiri dulu.

Lihat komentar lainnya